– Bentuk Komunikasi Bagi Penyandang Disabilitas Pada Masa Pandemi Covid 19 di Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia

Simbol kursi roda
symbol tunanetra
symbol tuna rungu
symbol disabilitsa intelektual

Gufroni Sakaril ketum PPDI

Drs. Gufroni Sakaril, MM

Ketua Umum PPDI

PROFIL SINGKAT

 

Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) merupakan organisasi payung dan beranggotakan beragam organisasi disabilitas di Indonesia yang didirikan pada tahun 1987.

Visi lembaga ini adalah mewujudkan partisipasi penuh dan persamaan kesempatan penyandang disabilitas dalam seluruh aspek kehidupan. PPDI berfungsi sebagai lembaga koordinasi dan advokasi bagi anggota-anggotanya, sedangkan bagi pemerintah PPDI merupakan mitra dalam penyusunan berbagai kebijakan dan program berkaitan penyandang disabilitas.

PPDI memiliki jaringan kerja hampir diseluruh provinsi di Indonesia dan merupakan anggota dari Disabled People Internasional. Sejak tahun 2005, PPDI bersama organisasi jaringannya aktif mendorong dan memberikan konsep naskah akademis bagi proses ratifikasi CRPD hingga diterbitkannya UU No. 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas.

MITRA PPDI


Logo Kementerian Sosial



Logo Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Setiap penyandang disabilitas memiliki cara berkomunikasi dan berinteraksi yang berbeda. Bagi penyandang disabilitas sensorik seperti tuli dan tunanetra, komunikasi dilakukan dengan organ sensorik lain yang masih berfungsi. Misalnya tunanetra, mereka terbiasa mengandalkan suara untuk mengidentifikasi subjek atau objek. Sedangkan Tuli menggunakan organ penglihatan untuk mengidentifikasi subjek atau objek. Lantas bagaimana dengan penyandang disabilitas yang kehilangan dua organ sensoriknya, yaitu penglihatan dan pendengaran, atau dikenal sebagai deafblindness? Penyandang disabilitas ganda, tunanetra dan tuli dari Inggris, Emma Boswell menyampaikan bagaimana dia berkomunikasi dan mengidentifikasi subjek dan objek.penyandang disabilitas dihadapkan dengan berbagai permasalahan yang harus mereka hadapi, dimulai dari tuntutan mereka untuk bisa menerima dan menyesuaikan diri terhadap kedisabilitasannya, kemudian dihadapkan pada lingkungan masyarakat sekitarnya yang kemungkinan tidak berpihak kepadanya. Perkembangan dan kemampuan penyandang disabilitas dalam berkomunikasi dan berinteraksi lebih lambat dibandingkan dengan orang-orang yang normal. Interaksi dan komunikasi orang normal atau non disabilitas juga perlu dilakukan dengan orang penyandang disabilitas, dengan demikian hubungan sosial diantara mereka akan terjalin dengan baik dan tidak ada yang merasa dikesampingkan. Pemahaman makna dan persepsi diantara keduanya memang membutuhkan pemahaman yang rumit tetapi hal ini tidak menghalangi usaha mereka untuk tetap menjalin komunikasi satu sama lain dengan baik.
Pandemi virus corona (Covid-19) bukan hanya membawa dampak kepada para pengusaha dan karyawan, namun juga bagi penyandang disabilitas. Kelompok disabilitas dinilai sebagai pihak yang paling terpukul akibat virus corona. Namun cukup disayangkan mereka seringkali terlupakan. Berdasarkan kaji cepat jaringan organisasi disabilitas yang diselenggarakan pada 10-24 April 2020 dengan melibatkan 1683 responden yang mewakili seluruh ragam disabilitas dari 216 Kota/Kabupatendi 32 provinsi di Indonesia, setidaknya terdapat 80,9 % responden disabiltas di Indonesia terdampak pendemi covid 19..
Dari total responden, hanya 60.55 % memperoleh informasi yang cukup mengenai Covid-19 dan protokol pencegahannya,dan hanya sekitar 30% yang memahami dan mendisiplinkan protokol pencegahan. Sementara, 11.6 % responden mempunyai komorbiditas (penyakit penyerta) yang mengakibatkan kerentanan terpapar Covid-19. Kelompok disabilitas harus berjibaku dengan berbagai kendala di tengah pembatasan dan jaga jarak sosial akibat wabah virus corona, termasuk minimnya akses informasi, kehilangan mata pencaharian, dan kesulitan berkomunikasi.

Para penyandang disabilitas di masa pandemi ini, jika lebih dianalisis lebih dalam kelompok rentan yang paling terdampak baik dari aspek komunikasi, kesehatan, sosial, dan ekonomi. Dari aspek kesehatan misalnya, penyandang disabilitas memiliki keterbatasan dalam melakukan sesuatu yang mana disini penyandang disabilitas mengalami kesulitan dalam melakukan tindakan preventif atas virus corona, seperti : cara mencuci tangan yang tepat, bagaimana menggunakan masker yang baik, penggunaan hand sinitizer, maupun pelaksanaan yang sesuai dengan protokol kesehatan atau SOP yang ada. Belum lagi penyandang disabilitas bukan hanya satu macam saja tapi ada berbagai ragam disabilitas dinataranya disabilitas fisik, sensosrik, mental dan intelektual. Bahkan ada juga disabilitas ganda dan multi disabilitas.
Kelompok penyandang disabilitas membuat sebuah pentas seni yang luar biasa rasanya tidak mungkin, karena hal ini masih banyak yang beranggapan bahwa penyandang disabilitas tidak memiliki jiwa seni, namun bukan berarti mereka tidak mempunyai potensi dan mereka harus dikenalkan ke dunia seni. Penyandang disabilitas memiliki kedudukan dan hak yang sama dengan masyarakat pada umumnya, penyandang disabilitas merupakan kelompok masyarakat yang beragam, diantaranya penyandang disabilitas fisik, disabilitas mental, maupun gabungan dari keduanya. Selain hak yang sama, penyandang disabilitas juga berhak untuk berkembang, baik dibidang kesenian maupun yang lainnya. Bisa saja kemampuannya minim, namun mereka tetap memiliki potensi yang sebenarnya luar biasa, khususnya dibidang seni, dan akan sangat menarik apabila mereka bisa menampilkan sesuatu yang luar biasa dan menyampaikan pesan moral melalui berbagai kegiatan.
Dampak terhadap aktivitas dan partisipasi social dapat dilihat misalnya 90% responden memilih akan beribadah di rumah dan 10% responden memilih beribadah di tempat peribadatan, masjid maupun gereja. Akan berhenti total terkait kegiatan Arisan (50%); pesta (54%); pertemuan RT (42%); pertemuan dusun (48%); pertemuan dasa wisma (34%), dan pertemuan PKK (43%); menengok orang sakit (40%) dan melayat orang meninggal (40%); kerja bakti (38%); sementara untuk belanja (hanya 18,5% ingin belanja online dan sebagian besar, yakni 66% tetap memilih belanja ke pasar.
Kaji cepat ini juga menemukan dampak ekonomi yang sangat serius, dimana sekitar 86 % responden yang bekerja di sektor informal mengalami pengurangan pendapatan mencapai 50-80 % selama pandemi terjadi. Penurunan pendapatan menjadi lebih parah di saat Pembatasan Sosial Berskala Besar. Penyandang disabilitas tidak memiliki tabungan (simpanan) dan tergantung dukungan dari orang lain untuk dimintai bantuan (94,36%)
Selain itu, di bidang pendidikan akses platform pembelajaran online juga menjadi kendala serius yang ditemukan.Selain mengidentifikasi dampak Covid-19, kaji cepat ini juga memetakan potensi kontribusi penyandang dalam upaya penanganan pandemi Covid-19. Ditemukan sekitar 64 % responden yang menyatakan kesediaan untuk berkontribusi dalam penanganan Covid-19 dengan beragam kapasitas dan potensi yang dimiliki. Bahkan, di beberapa daerah, organisasi disabilitas telah mulai aktif bersama dengan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 untuk turut mengedukasi masyarakat, serta mendukung data untuk penyaluran bantuan sosial.
Tida sedikit penyandang disabilitas yang positif terjangkit virus covid 19. Mereka memiliki rasa cemas yang berlebihan. Mengapa? Sebab mereka tidak bias melalukan isolasi mandirii. Semenatra rumah sakit banyak yang belum inklusif atau akses untuk disabilitas. Rasa cemas ini juga dialami mereka yang tidak belum kena virus. Jadi mereka hanya dirumah saja. Tanpa melakukan aktivitss apapun. Rasa cemas dan takut ini membuat disabilitas makin terpuruk.
Sebenarnya rasa cemas dan ketakutan pada diri masyarakat atas wabah virus corona suatu yang manusiawi. Namun hal ini jika tidak diatasi, secara sosiologis akan menimbulkan disorganisasi dan disfungsi sosial di masyarakat khususnya kaum disabilitas. Terjadinya diorganisasi dan disfungsi sosial pada kaum disabilitas akan memicu efek bola salju (snowball effect) pada sektor kehidupan mereka. Efek paling nyata adalah bidangsosial dan ekonomi. Dampak dari diorganisasi dan disfungsi sosial karena wabah virus corona, membuat individu atau kelompok penyandang disabilitas mengalami terhentinya berbagai layanan sosial karena lembaga layanan disabilitas juga mengalami kesulitan. Dampak lainnya adalah penurunan produktivitas penyandang disabilitas dalam kegiatan ekonomi. Terbatasnya kemampuan bertahan karena tidak mempunyai simpanan yang cukup banyak penyandang disabilitas harus berhutang untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.
Peran Organisasi Penyandang Disabilitas
Perkumpulan penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) dan organisasi disabilitas lainnya bersama-sama melakukan advokasi dan juga memberikan pelayananan kepada rekan-rekan penyandang disabilitas yang terdampak Covid. PPDI menyadari disabilitas menjadi masyarakat yang paling rentan di masa pandemi ini,sehingga membutuhkan kebijakan dan penanganan yang inklusif sesuai dengan ragam disabilitasnya. Dalam berbagai kesempatan Organisasi Sosial Penyandang Disabilitas termasuk PPDI mendesak kepada Pemerintah untuk membantu penyandang disabilitas yang terdampak Covid melalui berbagai kebijakan misalnya melalui bantuan sosial, penanganan inklusif untuk disabilitas yang positif Covid utuk mendapatkan pelayanan yang tidak diskriminatif.

TINJAUAN PUSTAKA
Komunikasi Antarpribadi
Manusia sebagai makhluk sosial, berinteraksi merupakan kebutuhan utama dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, dalam interaksinya dengan masyarakat, manusia akan melakukan komunikasi untuk menyampaikan informasi. Komunikasi yang berlangsung antara individu dengan inividu dianggap sebagai komunikasi secara tatap muka atau face to face, kemudian dalam ilmu komunikasi dikenal dengan istilah komunikasi antarpribadi. Komunikasi antarpribadi dinilai sangat efektif untuk merubah perilaku orang lain, bila terdapat persamaan mengenai makna yang dibincangkan. Selama proses komunikasi antarpribadi tersebut berlangsung bisa saja terjadi interaksi yang melibatkan perasaan antara individu dengan individua atau individu dengan kelompok, dan selama proses pertukaran informasi ini berlangsung diharapkan tidak menimbulkan kesalahpahaman dalam berkomunikasi.
Menurut Evert M Rogers dalam Depari, komunikasi antarpribadi merupakan komunikasi dari mulut ke mulut, dengan interaksi tatap muka antara beberapa orang pribadi. Sedangkan menurut Dean Barnulus (Liliweri, 1991) mengemukakan bahwa komunikasi antarpribadi dihubungkan dengan pertemuan antara dua individu ataupun lebih yang terjadi secara spontan dan tidak berstruktur. Komunikasi antarpribadi adalah proses pengiriman dan penerimaan pesan antara dua individu atau antar individu dalam kelompok dengan beberapa efek dan umpan balik seketika menurut Joseph A. Devito dalam buku The Interpersonal Communication (Devito, 1989).
Berdasarkan definsi Devito diatas, komunikasi antarpribadi dapat berlangsung antara dua orang yang memang sedang berdua seperti, suami istri yang sedang bercakap-cakap, ataupun antara orang tua dan anak. Pentingnya situasi komunikasi antarpribadi ialah karena prosesnya memungkinkan berlangsung secara dialogis. Komunikasi secara dialogis selalu lebih baik daripada secara monologis. Monolog menunjukan suatu bentuk komunikasi dimana seorang berbicara yang lain mendengarkan, jadi tidak ada interaksi, yang aktif hanya komunikator saja, sedangkan komunikan bersifat pasif. Situasi komunikasi seperti ini terjadi misalnya ketika seorang ayah memberi nasihat kepada anaknya yang nakal.
Fungsi komunikasi antarpribadi ialah berusaha meningkatkan hubungan insani (human relations), menghindari dan mengatasi konflik-konflik pribadi, mengurangi ketidakpastian sesuatu serta berbagai pengetahuan dan pengalaman dengan orang lain. Komunikasi antarpribadi dapat meningkatkan hubungan kemanusiaan diantara pihak-pihak yang berkomunikasi. Hidup bermasyarakat seseorang bisa memperoleh kemudahan-kemudahan dalam hidupnya karena memiliki banyak sahabat. Melalui komunikasi antarpribadi juga kita dapat berusaha membina hubungan yang baik, sehingga menghindari dan mengatasi terjadinya konflik-konflik.
Pesan Mempengaruhi Komunikasi Antarpribadi
Menjaga hubungan kita dengan sesama diperlukan komunikasi yang baik, dengan demikian diperlukan beberapa cara dalam mengemas pesan yang perlu diperhatikan oleh komunikator yaitu:
1. Berusaha benar-benar mengerti orang lain. Ini adalah dasar dari apa yang disebut emphatetic communication (komunikasi empatik). Ketika kita berkomunikasi dengan orang lain, kita biasanya“berkomunikasi” dalam salah satu dari empat tingkat. Kita mungkin mengabaikan orang itu dengan tidak serius membangun hubungan yang baik, kita mungkin berpura-pura, kita mungkin secara selektif berkomunikasi pada saat kita memerlukannya atau kita membangun komunikasi yang atentif (penuhHasim, Witri Rahayu: [Komunikasi Antarpribadi Para Disabilitas Dalam Proses Pementasan Teater Di Smile Motivator] 19
perhatian), tetapi tidak benar-benar berasal dari dalam diri kita. Bentuk komunikasi tertinggi adalah komunikasi empatik, yaitu melakukan komunikasi untuk terlebih dahulu mengerti orang lain memahami karakter dan maksud/tujuan atau peran orang lain.
2. Kebaikan dan sopan santun yang sering kita anggap sebagai sikap atau perilaku yang sederhana, tetapi hal itu sangat peting dalam suatu hubungan karena hal-hal yang kecil adalah hal-hal yang besar dalam membangun hubungan komunikasi.
3. Mengembangkan komunikasi yang efektif adalah sikap menghargai setiap individu yang menjadi sasaran pesan yang kita sampaikan. Rasa hormat dan saling menghargai merupakan hukum yang pertama dalam kita berkomunikasi dengan orang lain. Ingatlah bahwa pada prinsipnya manusia ingin ingin dihargai dan dianggap penting. Jika kita harus mengkritik atau memarahi seseorang, lakukan dengan penuh respek terhadap harga diri dan kebanggaan seseorang. Jika kita membangun komunikasi dengan rasa dan sikap saling menghargai dan menghormati maka kita dapat membangun kerja sama yang menghasilkan sinergi yang akan mwningkatkan efektivitas kinerja kita, baik sebagai individu maupun secara keseluruhan sebagai sebuah tim
4. Empati (empathy) adalah kemampuan kita untuk menempatkan diri kita pada situasi atau kondisi yang dihadapi oleh orang lain. Salah satu prasyarat utama dalam memiliki sikap empati adalah kemampuan kita untuk mendengarkan atau mengerti terlebih dulu sebelum didengarkan atau dimengerti oleh orang lain. Rasa empati akan memampukan kita untuk dapat menyampaikan pesan dengan cara dan sikap yang akan memudahkan penerima pesan menerimanya. Rasa empati akan menimbulkan respek atau penghargaan dan rasa respek akan membangun kepercayaan yang merupakan unsur utama dalam membangun teamwork. Jadi, sebelum kita membangun komunikasi atau mengirimkan pesan, kita perlu mengerti dan memahami dengan empati calon penerima pesan kita. Empati bisa juga berarti kemampuan untuk mendengar dan bersikap perseptif atau siap menerima masukan ataupun umpan balik apa pun dengan sikap yang positif. Banyak sekali dari kita yang tidak mau mendengar saran, apalagi kritik dari orang lain. Padahal esensi dari komunikasi adalah aliran dua arah. Komunikasi satu arah tidak akan efektif manakala tidak ada umpan balik yang merupakan arus balik dari penerima pesan. (Hidayat Darsun. 2012)
5. Audible memiliki makna, antara lain: dapat didengarkan atau dimengerti dengan baik. Jika empati berarti kita harus mendengar terlebih dahulu ataupun mampu menerima umpan balik dengan baik maka audible berarti pesan yang kita sampaikan dapat diterima oleh penerima pesan.
6. Clarity adalah kejelasan dari pesan itu sendiri sehingga tidak menimbulkan multi interpretasi atau berbagai penafsiran yang berlainan. Kesalahan penafsiran atau pesan dapat menimbulkan berbagai penafsiran akan menimbulkan dampak yang tidak sederhana. Clarity dapat pula berarti keterbukaan dan transparansi. Dalam berkomunikasi. Kita perlu mengembangkan sikap terbuka sehingga dapat menimbulkan rasa percaya dari penerima pesan atau anggota tim kita. Karena tanpa keterbukaan akan timbul sikap saling curiga dan pada gilirannya akan menurunkan semangat atau antusiasme kelompok atau tim kita.
7. Humble adalah sikap rendah hati yang dilakukan agar komunikasi menjadi efektif. Sikap ini merupakan unsur yang terkait dengan hukum pertama untuk membangun rasa menghargai perasaan orang lain, biasanya didasari oleh sikap rendah hati yang kita miliki. Sikap rendah hati, pada intinya antara lain: sikap yang penuh melayani, sikap menghargai, mau mendengar dan menerima kritik, tidak sombong dan memandang rendah orang lain,berani mengakui kesalahan, rela memaafkan, lemah lembut dan peuh pengendalian diri, serta mengutamakan kepentingan yang lebih besar. (Hidayat Darsun. 2012) Jika komunikasi yang kita bangun didasarkan pada lima unsur pokok pesan komunikasi yang efektif tersebut maka komunikasi akan berjalan efektif. Pada akhirnya, tujuan komunikasi pun tercapai, yaitu keinginan kita untuk mengubah sikap atau perilaku orang lain. Adapun dua jenis komunikasi terdiri dari: (Hidayat Darsun. 2012)
1. Pesan Verbal
Simbol atau pesan verbal adalah semua jenis simbol yang menggunakan satu kata atau lebih. Bahasa dapat juga dianggap sebagai sistem kode verbal. Bahasa dapat didefinisikan sebagai seperangkat simbol, dengan aturan untuk mengombinasikan simbol-simbol tersebut, yang digunakan dan dipahami suatu komunitas. Jalaluddin Rakhmat (1994) mendefinisikan bahasa secara fungsional dan formal. Secara fungsional, bahasa diartikan sebagai alat yang dimiliki bersama untuk menggunakan gagasan. Ia menekankan dimiliki bersama karena bahasa hanya dapat dipahami bila ada kesepakatan diantara anggota-anggota kelompok sosial untuk menggunakannya. Secara formal, bahasa diartikan sebagai semua kalimat yang terbayangkan, yang dapat dibuat menurut peraturan tata bahasa. Setiap bahasa mempunyai peraturan bagaimana kata-kata harus disusun dan dirangkaikan supaya memberi arti. Tata bahasa meliputi tiga unsur: fonologi, sintaksis, dan semantik. Fonologi merupakan pengetahuan tentang cara pembentukan kalimat. Semantik merupakan pengetahuan tentang arti kata atau gabungan kata-kata. (Hidayat Darsun. 2012).

2. Nonverbal
Pesan-pesan diekspresikan dengan sengaja atau tidak sengaja melalui gerakan-gerakan, tindakan-tindakan, perilaku atau suara-suara atau vocal yang berbeda dari penggunaan kata-kata dalam bahasa verbal. Komunikasi nonverbal adalah penyampaian pesan tanpa kata-kata dan komunikasi memberikan arti pada komunikasi verbal. Komunikasi nonverbal adalah komunikasi yang menggunakan pesan-pesan nonverbal. Istilah nonverbal biasanya digunakan untuk melukiskan semua peristiwa komunikasi di luar kata-kata terucap dan tertulis. Secara teoritis, komunikasi nonverbal dan komunikasi verbal dapat dipisahkan. Namun, dalam kneyataannya, kedua jenis komunikasi ini saling menjalin, saling melengkapi dalam komunikasi yang kita lakukan sehari-hari. (Hidayat Darsun. 2012)
Faktor-Faktor Penghambat Komunikasi
Menurut Effendy (2008) dalam Dinamika Komunikasi, (Tatang S, 2016), dijelaskan secara garis besar ada empat penghambat komunikasi, yaitu sebagai berikut:
1. Hambatan Sosiologis, Antropologis, dan psikologis
Proses komunikasi berlangsung dalam konteks situasional (situasional context). Hal ini berarti bahwa komunikator harus memperhatikan situasi ketika komunikasi dilangsungkan, situasi sangat berpengaruh terhadap kelancaran komunikasi, terutama situasi yang berhubungan dengan faktor-faktor sosiologis, antropologis, dan psikologis.
a. Hambatan sosiologis
Masyarakat terdiri atas berbagai golongan dan lapisan, yang menimbulkan perbedaan dalam situasi sosial, agama, ideologi, tingkat pendidikan, tingkat kekayaan, dan sebagainya. Perbedaan tersebut dapat menjadi hambatan bagi kelancaran komunikasi.
b. Hambatan antropologis
Seorang komunikator tidak akan berhasil apabila tidak mengenal siapa komunikan yang dijadikan sasarannya. “siapa” disini bukan nama yang disandang, melainkan ras, bangsa, ataupun suku. Dengan mengenal dirinya, komunikator akan mengenal pula kebudayaan,gaya hidup, dan norma kehidupannya, serta kebiasaan dan bahasa komunikannya.
c. Hambatan Psikologis
Faktor psikologis sering menjadi hambatan dalam komunikasi, hal ini disebabkan komunikator tidak mengkaji diri komunikan sebelum melakukan komunikasinya. Komunikasi sulit untuk berhasil apabila komunikan sedang sedih, bingung, marah, merasa kecewa, merasa iri hati, dan kondisi psikologis lainnya, juga jika komunikasi menaruh prasangka (prejudise) kepada komunikator. Prasangka merupakan salah satu hambatan berat bagi kegiatan komunikasi, karena orang yang berprasangka “belum apa-apa” sudan bersikap menentang komunikator.
2. Hambatan Semantis
Jika hambatan sosiologis, antrpologis, dan psikologis terdapat pada pihak komunikan, hambatan semantik terdapat pada diri komunikator. Faktor semantik menyangkut bahasa yang digunakan komunikator sebagai “alat”untuk menyalurkan pikiran dan perasaannya kepada komunikan. Salah ucap atau salah tulis dapat menimbulkan salah pengertian atau salah tafsir sehingga bisa menimbulkan kesalahpahaman dalam berkomunikasi.

3. Hambatan Mekanis

Hambatan mekanis dijumpai pada media yang dipergunakan dalam melancarkan komunikasinya. Banyak contoh yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari, misalnya suara telepon yang tidak jelas, ketikan huruf yang buram pada surat, suara yang hilang dan muncul pada pesawat radio, berita surat kabar yang sulit dicari sambungan kolomnya, gambar yang meliuk-liuk pada pesawat televisi, dan lain-lain. Hambatan yang dijumpai pada surat, misalnya huruf ketikan yang buram, dapat diatasi dengan mengganti tinta printer atau mesin printer.
4. Hambatan Ekologis
Hambatan ekologis disebabkan oleh gangguan lingkungan terhadap proses berlangsungnya komunikasi. Contoh, riuh rendahnya orang-orang atau kebisingan lalu lintas, suara hujan atau petir, dan lain-lain pada saat komunikator sedang menyampaikan pesannya. Untuk menghindarinya, komunikator harus mengusahakan tempat komunikasi yang bebas gangguang suara lalu lintas atau kebisingan orang-orang. Dalam menghadapi gangguan tersebut, komunikator dapat melakukan kegiatan tertentu, misalnya berhenti dahulu sejenak atau memperkeras suaranya.
Komunikasi antarpribadi para disabilitas mempunyai beberapa faktor penghambat sesuai dengan kondisi disabilitas masing-masing, menurut penjelasan faktor penghambat komunikasi diatas menunjukan bahwa, hambatan komunikasi para disabilitas yang berasal dari kondisi fisik bukan merupakan satu-satunya penghambat pada proses komunikasi tetapi bisa juga ada faktor lain seperti dalam penjelasan tersebut diatas. Penelitian tentang Komunikasi Antarpribadi Para Disabilitas Dalam Proses Pementasan Teater .Bandung, salah satunya akan mencoba untuk melihat faktor penghambat komunikasi antarpribadi para disabilitas.
Menurut John C. Maxwell disabilitas adalah seseorang yang memiliki kelainan fisik dan atau mental yang sifatnya mengganggu atau merupakan suatu hambatan baginya untuk melakukan kegiatan sehari-hari secara layak atau normal. Adapun jenis-jenis disabilitas antara lain sebagai berikut:
1) Kelainan Tubuh (tuna daksa): Tunadaksa adalah individu yang mengalami kerusakan jaringan otak, jaringan sumsum tulang belakang, yang mengakibatkan kecacatan fisik, cacat tubuh, kelainan dan lain sebagainya.
2) Kelainan Indera Penglihatan (tunanetra): Tunanetra adalah orang yang memiliki ketajaman penglihatan yang kurang baik, tunanetra bias disebut juga buta yang biasanya memiliki keterbatasan dalam mendeteksi benda-benda di sekitar dan lebih memaksimalkan kemampuan mendengarnya. Tunanetra bisa buta total atau kebutaan parsial yang tidak dapat mengidentifikasi tes menghitung jumlah jari dari jarak tiga meter.

3) Kelainan Pendengaran (tunarungu): Tunarungu adalah istilah umum yang digunakan untuk menyebut kondisi seseorang yang mengalami gangguan dalam indera pendengaran (Smart, 2010) tunarungu bisa dikelompokkan menjadi orang yang tidak memiliki kemampuan mendengar secara total atau ada juga yang belum parah dan masih bisa menggunakan alat bantu dengar.
4) Kelainan Bicara (tunawicara): Tunawicara adalah seseorang yang mengalami kesulitan dalam mengungkapkan pikiran melalui Bahasa verbal, sehingga sulit bahkan tidak dapat di mengerti oleh orang lain. Kelainan bicara ini dapat bersifat fungsional dimana kemungkinan disebabkan karena ketunarunguan, dan organik yang memang disebabkan adanya ketidaksempurnaan organ bicara maupun adanya gangguan pada organ motoric yang berkaitan dengan bicara.
5) Keterbelakangan Mental (Tuna Grahita): Tuna grahita adalah orang yang mengalami keterbelakangan mental sehingga memiliki tingkat kecerdasan yang rendah di bawah rata-rata orang pada umumnya. Ciri-ciri keterbelakangan mental ini bisa dilihat dari kelainan fisik atau perilaku abnormal yang sering
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif, dijelaskan Moleong (2007) kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain, secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Selanjutnya menurut Bogdan dan Taylor (1975) yang dikutip oleh Moleong (2007) mengemukakan bahwa metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskritif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.
Tujuan dari metode deskriptif kualitatif ini adalah untuk mengumpulkan informasi secara rinci yang mengambarkan gejala atau fenomena yang ada, dan membuat perbandingan atau evaluasi. Dengan metode kualitatif, kita dapat menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara peneliti dan responden atau informan. Selanjutnya moleong dalam Jaeni (2015) menambahkan bahwa metode penelitian bersifat lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama dan terhadap pola-pola yang dihadapi.
Secara epistemologis, komunikasi seni pertunjukan merupakan proses komunikasi yang terjadi dalam seni pertunjukan. Untuk itu, langkah bagaimana prosedur terjadinya komunikasi dalam seni pertunjukan, hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar tentang komunikasi di dalam seni pertunjukan sebagai suatu kebenaran pengetahuan yang menjadi kekuatan daya hidup seni.
Secara aksiologis, komunikasi seni pertunjukan merupakan interaksi nilai-nilai dalam segenap wujud pengetahuan secara moral yang ditujukan untuk kebaikan hidup manusia. Landasan ini memberikan kita pada pemahaman nilai guna seni. Melalui komunikasi seni pertunjukan, fungsi-fungsi, nilai-nilai dan makna seni diberdayakan sebagai suatu keberfungsian seni dalam masyarakat, baik sebagai hiburan, ajaran moral dan agama, pewarisan budaya, politik dan ekonomi.
Metode pendekatan yang diambil dalam penelitian ini adalah studi kasus. Jenis pendekatan studi kasus ini merupakan jenis pendekatan yang digunakan untuk menyelidiki atau memahami suatu kejadian atau masalah yang telah terjadi dengan cara mengumpulkan berbagai informasi yang kemudian diolah untuk mendapatkan solusi agar masalah yang diungkap dapat terselesaikan. Adapun pendekatan studi kasus dengan penelitian kualitatif lainnya terdapat pada kedalaman analisisnya pada sebuah kasus tertentu yang lebih spesifik. Analisis dan triangulasi data juga digunakan untuk menguji keabsahan data dan menemukan kebenaran objektif sesungguhnya. Metode ini tepat untuk menganalisis kejadian tertentu di suatu tempat tertentu dan waktu tertentu pula. (Sugiyono, 2014)

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) merupakan organisasi payung dan beranggotakan beragam organisasi disabilitas di Indonesia yang didirikan pada tahun 1987.
Visi lembaga ini adalah mewujudkan partisipasi penuh dan persamaan kesempatan penyandang disabilitas dalam seluruh aspek kehidupan. PPDI berfungsi sebagai lembaga koordinasi dan advokasi bagi anggota-anggotanya, sedangkan bagi pemerintah PPDI merupakan mitra dalam penyusunan berbagai kebijakan dan program berkaitan penyandang disabilitas.
PPDI memiliki jaringan kerja hampir diseluruh provinsi di Indonesia dan merupakan anggota dari Disabled People Internasional. Sejak tahun 2005, PPDI bersama organisasi jaringannya aktif mendorong dan memberikan konsep naskah akademis bagi proses ratifikasi CRPD hingga diterbitkannya UU No. 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas..
Bahasa-bahasa Komunikasi Antar Pribadi
Salah satu hal yang membahagiakan dalam berkomunikasi adalah kesempatan untuk saling berbagi perasaan, dengan mengalami suatu perasaan yang diungkapkan kepada orang lain juga merupakan kebutuhan untuk kesehatan psikologis. Berbeda dengan orang yang memiliki keterbatasan, tentu akan sulit dalam berkomunikasi, yang terkadang antara pesan yang ingin disampaikan komunikan tidak sampai kepada penerima pesan dan terjadi salah persepsi.
Berdasarkan hasil wawancara pendekatan lebih dalam yang dilakukan antara fasilitator dan para disabilitas .adalah menggunakan komunikasi verbal (oral). Sedangkan isyarat nonverbal, tidak semua dapat mengerti, terkecuali bagi disabilitas yang telah mengikuti jenjang pendidikan luar biasa. Secara keseluruhan, para disabilitas yang berada .lebih mengerti komunikasi secara verbal. Hasil wawancara yang berkaitan dengan tingkat kesulitan yang dihadapi pada proses pelatihan drama dengan salah satu pelatih dapat penulis sampaikan petikannya, sebagai berikut:
“Ya tingkat kesulitannya sih, meskipun mereka lebih tua dari kita, tingkah laku mereka tuh sama kayak anak kecil gitu, jadi kadang kadang pas lagi latihan tuh kesulitan untuk diatur, terus agak susah juga menyatukan persepsi mereka, misalkan pelatih pengennya A tapi ternyata anak-anak susah nangkapnya dan susah konsentrasi, jadi diakalinnya kadang si pelatih harus ngambek dulu baru mereka mengerti, karena mereka sensitif dengan yang ngambek.
Berdasarkan petikan wawacara diatas komunikasi antarpribadi pelatih dan para disabilitas, tergambarkan belum memiliki teknik yang khusus untuk mengatasi kesulitan dalam berkomunikasi, karena para disabilitas itu lebih peka dan sensitif terhadap kondisi emosional, maka pelatih lebih memilih untuk menekan emosi, sehingga para disabilitas lebih bisa peka dan patuh kembali konsentrasi, meskipun situasi tersebut kurang baik untuk kepribadian mereka. Para disabilitas akan lebih mengetahui orang-orang yang tulus, yang baik dan orang berpura-pura baik dan akan tahu orang yang tidak suka terhadap mereka. Karena kesensitifan dan sadar akan kekurangannya, para disabilitas membuat mereka memiliki tingkat kepercayaan terhadap orang lain lebih rendah.
Sejalan dengan teori dari Johnson (1981) mengungkapkan suatu model lima tahap pengungkapan perasaan dalam komunikasi. Pada saat berkomunikasi dengan para disabilitas, PPDIjuga tidak lepas dari proses, diantaranya:
1. Mengamati
Berdasarkan hasil orbservasi, pengamatan yang dilakukan terkhusus pada proses pementasan drama yang dilakukan pelatih dan para disabilitas .adalah dengan mengamati terlebih dahulu tingkah laku dan kepribadian para disabilitas. Dengan mengumpulkan informasi dari orang-orang terdekat seperti keluarga, atau pengasuh bahkan ada juga disabilitas yang secara langsung memberikan informasi tentang dirinya secara oral maupun melalui bahasa tubuh tergantung kemampuan yang dimilikinya. Pengamatan ini seperti memperhatikan kualitas vocal, sorot mata, raut wajah gerakan tubuh yang menguatkan verbal dan sebagainya, meskipun pada tahap ini informasi tersebut hanya bersifat deskriptif.
2. Menafsirkan (interpreting)
Proses menafsirkan semua informasi yang diterima oleh pelatih adalah menentukan makna dari ucapan yang keluar dari para disabilitas atau gerakan non verbal lainnya. .para pelatih terlebih dahulu harus memberikan kepercayaan kepada para disabilitas agar mereka juga memberikan kepercayaan lebih. Sehingga penafsiran yang dilakukan para pelatih dapat diterima dengan baik dan tidak terjadi salah persepsi. Proses penafsiran tersebut dapat terjadi karena suatu masalah sebagai contoh permasalahan di keluarga, sehingga para disabilitas ada yang sulit untuk konsentrasi atau hal lain karena keterbatasan mencerna sudut pandang dari pelatih.
3. Mengalami Perasaan (feeling)
Berdasarkan hasil pengamatan juga dengan ikut mengalami perasaan sebagai reaksi spontan terhadap penafsiran. Meskipun yang dihadapi adalah para disabilitas, memahami keterbatas bukan perkara yang mudah, terkadang para disabilitas ada yang sudah menerima kekurangannya, ada juga yang belum menerima sepenuhnya, sehingga pemahaman mendalam perlu dikuatkan untuk menumbuhkan feel antara pelatih dan disabilitas.
4. Menanggapi (intending)
Reaksi selanjutnya adalah terdorong untuk menanggapi perasaan sehingga terbentuk intensi yang mengarahkan agar para disabilitas berbuat sejalan dengan perasaan pelatih. Intensi pelatih inilah yang membimbing tindakan yang akan dilakukan sebagai ungkapan perasaan.
5. Mengungkapkan (expressing)
Reaksi terakhir adalah dengan mengungkapkan perasaan. Sekalipun dalam masa pelatihan menerima kata keras atau respon kemarahan yang dilakukan .justru untuk mendekati dan meneguhkan sebagai ungkapan rasa simpati dan motivasi terhadap disabilitas, tidak lain sebagai pengungkapan dari sensasi, interpretasi, perasaan, dan intensi-intensi pelatih terhadap para disabilitas. Dari kelima aspek yang telah dianalisis tersebut peran pelatih PPDIadalah untuk membantu meyakinkan para penyandang disabilitas bahwa tujuan mereka dalam menampilkan pementasan teater adalah untuk memotivasi orang lain dan sebenarnya dunia itu menerima orang-orang seperti mereka dan mencoba menghapus stigma masyarakat bahwa disabilitas adalah hal yang memalukan. Masyarakat harus dapat menerima bahwa tidak semua yang berasal dari ketidaksempurnaan itu juga dapat mementaskan pertunjukan yang indah dan tidak kalah menariknya dengan orang pada umumnya, mereka yang memiliki keterbatasan justru disisi lain memiliki kelebihan.

KESIMPULAN DAN SARAN
Komunikasi antar pribadi sebagai peristiwa komunikatif yang terjadi secara berulang bentuknya berupa perintah, pujian, saran dan penjelasan. Sikap yang ditunjukan berupa sikap luwes, terbuka, responsif dan simpatik. Penelitian ini menunjukan jawaban atas pertanyaan sebagai berikut:
1. Hasil penelitian komunikasi antarpribadi yang dibangun pengurus kepada para anggota disabilitas dilakukan dengan komunikasi verbal dan nonverbal.
2. Komunikasi verbal dan nonverbal dalam kegiatan pelatihan pementasan teater dilakukan untuk mempermudah penyampaian pesan serta melatih kepercayaan diri juga memberikan motivasi bagi setiap manusia. Para disabilitas dalam menjalin komunikasi sebelum maupun sesudah kegiatan menggunakan prinsip menyatukan rasa. Hal itu berarti dengan mengikatkan rasa pelatih dan para disabilitas mampu merekatkan diri dan memudahkan dalam menyampaikan pesan.

DAFTAR PUSTAKA
Budyatna, Ganiem, Teori Komunikasi Antarpribadi, Jakarta, Kencana Prenada Media Group, 2014 Hidayat, Darsun, Komunikasi Antarpribadi dan Medianya: Fakta Penelitian Fenomenologi
Jaeni, Metode Penelitian Seni: Subjektif-Interpretatif Pengkajian dan Kekaryaan Seni, Bandung: Sunan Ambu STSI Press, 2005.
Kusumaningsih, Niken, Pesan Komunikasi Non Verbal Dalam Sebuah Pementasan Teater (Studi Analisis Isi Deskriptif pada Deaf Art Community), Skripsi, Bandung: Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati, 2015.
Mulyana, Deddy, Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, Bandung: Rosda, 2005.
Savira, Annisa, Pola Komunikasi Teurapeutik dalam Terapi Auditory-Verbal pada Anak Tunarungu, Skripsi, Bandung:

Penulis : Gufroni Sakaril

Leave Comment

PPDI MEMILIKI

0
DPD
0
DPC
0
PPK
0
OPD

Post Terbaru

Back to top