– Pola Komunikasi Tuna rungu di Dewan Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia

Simbol kursi roda
symbol tunanetra
symbol tuna rungu
symbol disabilitsa intelektual

Gufroni Sakaril ketum PPDI

Drs. Gufroni Sakaril, MM

Ketua Umum PPDI

PROFIL SINGKAT

 

Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) merupakan organisasi payung dan beranggotakan beragam organisasi disabilitas di Indonesia yang didirikan pada tahun 1987.

Visi lembaga ini adalah mewujudkan partisipasi penuh dan persamaan kesempatan penyandang disabilitas dalam seluruh aspek kehidupan. PPDI berfungsi sebagai lembaga koordinasi dan advokasi bagi anggota-anggotanya, sedangkan bagi pemerintah PPDI merupakan mitra dalam penyusunan berbagai kebijakan dan program berkaitan penyandang disabilitas.

PPDI memiliki jaringan kerja hampir diseluruh provinsi di Indonesia dan merupakan anggota dari Disabled People Internasional. Sejak tahun 2005, PPDI bersama organisasi jaringannya aktif mendorong dan memberikan konsep naskah akademis bagi proses ratifikasi CRPD hingga diterbitkannya UU No. 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas.

MITRA PPDI


Logo Kementerian Sosial



Logo Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

ilustrasi runa rungu

[email protected]

Dosen Mercu Buana
Ketum PPDI
ABSTRAK

Komunikasi Interaksi antar penggurus dan anggota organisasi penting untuk saling memahami. Tuna rungu sebagai salah satu bagian dari organisasi sering mengalami kesulitan berkomunikasi dengan sesameapalagi dengan yang non tuna rungu. Ketunarunguan orangberkenaan kondisi pendengaran individu, yaitu ketidakmampuan orangdalam menangkap komunikasi verbal atau suara lainnya yang disesuaikan dengan frekuensi dan intensitas tertentu. Individu-individu tersebut diklasifikasikan sesuai dengan kategori ketuliannya. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan tipe deskriptif. Tipe penelitian deskriptif digunakan sebagai prosedur untuk mengemukakan pemecahan masalah dengan mengetengahkan keadaan obyek yang diteliti. Proses komunikasi orangtunarungu memerlukan pelayanan dan pendidikan khusus. Pola komunikasi total dan interaksi simbolik yang dikombinasikan yang terjadi mendukung efektivitas komunikasi antara tunarungu, tuna rungu dan lingkungannya. Penggunaan internet mempermudah interaksi dan komunikasi. Pemberdayaan kualitas pembelajaran orangtunarungu diperlukannya sarana dan prasarana yang khusus bagi masing-masing orang, seperti ruang bina komunikasi dan persepsi bunyi irama, ruang bina persepsi bunyi dan bicara ruang keterampilan. Pembekalan hardskill seperti penguasaan teknologi komunikasi dan informasi, kemampuan teknis sesuai dengan minat dan bakat berhubungan dengan bidang ilmunya serta softskill keterampilan berkomunikasi dengan orang lain termasuk dengan dirinya sendiri.
Kata Kunci: Pola Komunikasi, Tunarungu

1.  PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang dan Permasalahan

Komunikasi merupakan suatu proses dimana seorang atau beberapa orang, kelompok, organisasi, dan masyarakat menciptakan dan menggunakan informasi agar dapat terhubung dengan lingkungan dan orang lain. Raymond Ross (dalam Sambas, 2015, p. 49) komunikasi adalah suatu proses menyortir, memilih, dan mengirim simbol-simbol yang sedemikian rupa sehingga dapat membantu pendengar dalam membangkitkan daya respon atau pemaknaan dari sebuah pemikiran yang selaras dengan yang dimaksud komunikator. Komunikasi dapat terjadi apabila ada kesamaan antara penyampai pesan dan penerima pesan. Oleh sebab itu, komunikasi bergantung pada kemampuan penyampai pesan untuk dapat memahami satu dengan yang lainnya. Pada umumnya, komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak (komunikator dan komunikan). Apabila tidak dapat dilakukan dengan bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, dimungkinkan komunikasi dapat dilakukan dengan menggunakan bahasa tubuh, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum, menggelengkan kepala, mengangkat bahu. Cara seperti itu disebut komunikasi dengan bahasa nonverbal. Komunikasi dilakukan secara sadar, disengaja serta sesuai dengan tujuan, adanya partisipasi, menggunakan lambang-lambang berlangsung antara orang normal biasanya secara fisik dan mental atau pun bahkan yang berkebutuhan khusus seperti tunarungu. Informasi dapat diterima oleh manusia melalui lima indera, indera penglihatan, indera pendengaran, indera peraba, indera penciuman, dan indera pengecapan. Seseorang dapat menggunakan kelima indera tersebut dalam menerima, mencerna, atau untuk menghasilkan sebuah informasi baru. Namun, hal ini akan berbeda bagi seseorang yang memiliki kekurangan secara fisik. Mereka hanya dapat menerima informasi melalui inderanya yang masih dapat berfungsi secara baik. Ada banyak cara untuk dapat membangun komunikasi dengan orang tunarungu. Cara yang paling umum adalah dengan membaca gerak bibir dan menggunakan bahasa isyarat. Dapat juga berkomunikasi menggunakan alat bantu seperti alat tulis dan kertas bagi mereka yang berpendidikan, ataupun perangkat CART (Communication Access Realtime Translation). Apa pun caranya, komunikator harus sopan dan memperhatikan penuh penyandang tunarungu.

Tunarungu adalah kondisi terganggunya fungsi pendengaran seseorang yang bisa berlangsung hanya  sementara  atau  permanen.  Penderita  tunarungu  tentu  saja  akan  memerlukan  bentuk komunikasi khusus agar maksud pembicaraan bisa tersampaikan dengan baik. Tunarungu ada yang bersifat bawaan (sudah ada sejak lahir) dan adventif (terjadi setelah dilahirkan). Tunarungu adventif lebih banyak disebabkan oleh kebisingan atau karena penyebab-penyebab lain, seperti dampak suatu penyakit atau cedera fisik. Orangtunarungu adalah orangyang mengalami gangguan pada organ pendengarannya sehingga mengakibatkan ketidakmampuannya untuk mendengar, mulai dari tindakan yang ringan sampai berat. Berdasarkan tingkat kehilangan pendengaran yang diperoleh melalui tes dengan menggunakan audiometer, ketunarunguan dapat diklasifikasikan sebagai berikut: (1) Tunarungu Ringan (Mild Hearing Loss). Orangyang tergolong tunarungu ringan mengalami kehilangan pendengaran antara 27-40 dB. Ia sulit mendengar suara yang jauh membutuhkan tempat duduk yang letaknya strategis; (2) Tunarungu Sedang (Moderate Hearing Loss). Orangyang tergolong tunarungu sedang mengalami kehilangan pendengaran antara 41 – 55 dB. Ia dapat mengerti percakapan dari jarak 3 – 5 feet secara berhadapan (face to face), tetapi tidak dapat mengikuti diskusi kelas. Ia membutuhkan alat bantu dengar serta terapi bicara; (3) Tunarungu Agak Berat (Moderatly Severe Hearing Loss). Orangyang tergolong tunarungu agak berat mengalami pendengaran antara 56 – 70 dB. Ia hanya dapat mendengar suara dari jarak dekat, sehingga ia perlu menggunakan Hearing Aid. Kepada orangtersebut perlu diberikan latihan pendengaran serta latihan untuk mengembangkan kemampuan bicara dan bahasanya; (4). Tunarungu Berat (Severe Hearing Loss). Orangyang tergolong tunarungu berat mengalami kehilangan pendengaran antara 71 – 90 dB. Sehingga ia hanya dapat mendengar suara-suara yang keras dari jarak dekat. Orangtersebut membutuhkan pendidikan khusus secara intensif, alat bantu dengar, serta latihan untuk mengembangkan kemampuan bicara dan bahasanya; (5) Tunarungu Berat Sekali ( Prof Ound Hearing Loss). Orangyang tergolong tunarungu berat sekali mengalami

kehilangan pendengaran lebih dari 90 dB. Mungkin ia masih mendengar suara yang keras, tetapi ia lebih menyadari suara melalui getarannya (Vibratios) dari pada melalui pola suara. Ia juga lebih mengandalkan penglihatannya dari pada pendengarannya dalam berkomunikasi, yaitu melalui penggunaan bahasa isyarat dan membaca ujaran (Wardani, dkk. 2013,p. 5-6).

Orangtunarungu akan memiliki hambatan dalam komunikasi verbal, baik secara ekspresif (berbicara) maupun reseptif (memahami pembicaraan orang lain) sehingga penyandang tuna rungulebih memfungsikan dan mengutamakan indera penglihatannya untuk menerima pesan dan mengolah pesan dari luar dibandingkan indera pendengarannya. Keunikan KANTOR (Kantor Luar Biasa) Negeri Bagian B Kota Jayapura ini adalah proses program pembelajaran yang diterapkan di KANTOR agak berbeda dengan kantor reguler, karena menggunakan metode pendekatan dalam kelas, sehingga tuna rungu harus betul-betul memahami karakteristik siswa. Untuk mata pelajaran memang sama dengan kantor reguler, tapi di KANTOR ini ada pembelajaran khusus seperti tunarungu bicara, tuna bicara, bina diri, dan bina gerak, bina pribadi dan bina sosial. Permasalahannya akan difokuskan pada pola komunikasi keterkaitan antara sesama orangtunarungu, tuna rungu dan murid tunarungu. Dengan demikian yang menjadi fokus penelitian: 1) Bagaimana pola komunikasi antara pentuna rungu s tuna rungu dengan penyandang pentuna rungu s tuna rungu lainnya di Dewan Pentuna rungu s Pusat Perkumpulan penyandnag disabilitas Indonesia.

A. Tinjauan Pustaka Komunikasi

Manusia merupakan makhluk sosial dalam aktivitas kesehariannya berkomunikasi untuk berinteraksi dengan manusia lainnya, supaya tercipta sebuah pemahaman satu sama lainnya, komunikasi merupakan sesuatu yang sangat mendasar dalam hubungan antara manusia. Ada berbagai konsep mengenai komunikasi yang pada intinya memberikan pemahaman adanya proses penyampaian pesan, pembentukan makna dan lainnya. Komunikasi adalah kegiatan menyampaikan informasi melalui pertukaran pikiran, pesan, atau informasi, yang dapat dinyatakan dalam percakapan secara verbal, visual, sinyal, tulisan, bahkan tindakan tertentu. De Valenzuela,1992 (dalam Liliweri, 2015, p. 77) mengatakan, “komunikasi merupakan setiap tindakan dalam seseorang mengalami memberikan (kepada) atau menerima (dari) orang lain informasi tentang keinginan, kebutuhan, persepsi, pengetahuan, atau perasaan tertentu. Tindakan itu mungkin disengaja atau tidak disengaja, mungkin melibatkan sinyal konvensional atau tidak konvensional, dalam bentuk linguistik atau nonlinguistik, tindakan itu dapat terjadi melalui mode pengucapan atau cara-cara lainnya”.

Teori Nativisme Chomsky dan Hadley (1993) dalah tokoh pendukung teori nativisme. Teori ini berpandangan bahwa manusia satu-satunya makhluk Tuhan yang dapat berkomunikasi melalui verbal. Disisi lain, bahasa merupakan suatu yang kompleks, oleh karenanya manusia senatiasa belajar untuk dapat berkomunikasi dengan makhluk Tuhan yang lain Dari makna pendapat tersebut tersirat komunikasi simbolik yang dikirimkan kepada pendengar sehingga pendengar dapat merespon simbol-simbol itu untuk kembali diartikan untuk timbal balik komunikasi agar proses komunikasi berjalan lancar. Komunikasi memang sesuatu yang menyampaikan pesan kepada orang lain sehingga terciptanya sebuah maksud yang dapat dipahami seseorang untuk mengetahui dan merespon maksud dari pesan tersebut.

Kesulitan berkomunikasi yang dialami orangtunarungu, mengakibatkan mereka memiliki kosa kata yang terbatas, sulit mengerti ungkapan-ungkapan bahasa yang mengandung kiasan, sulit mengartikan kata-kata abstrak, serta kurang menguasai irama dan gaya bahasa. Dengan demikian, pelajaran bahasa harus diberikan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuannya, karenapelajaran bahasa ini merupakan pelajaran yang sangat penting bagi mereka yang akan berpengaruh pula dalam mempelajari ilmu-ilmu lainnya.

Ada dua tipe komunikasi, yakni komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal. Komunikasi verbal yang gunakan satu kata atau lebih bahkan merupakan bahasa yang dapat didefinisikan sebagai komunikasi verbal yang dapat direspon komunikan dengan cukup mudah. Sedangkan komunikasi nonverbal merupakan komunikasi di luar kata-kata yang terucap atau tertulis, menggunakan bahasa tubuh. Komunikasi nonverbal merupakan komunikasi yang menggunakan simbol-simbol, bahasa tubuh ataupun tanda-tanda yang dianggap merepresentasikan isi pesan yang hendak disampaikan. Inilah yang dialami tunarungu. Dengan ketidakmampuannya untuk mendengar, hal inilah yang kemudian mengakibatkan minimnya bahasa mereka dan menggunakan simbol sebagai pendorong komunikasi mereka. Menurut Rogers dan Kincaid (dalam Winangsih, 2009, p. 79) komunikasi nonverbal adalah salah satu dari bentuk komunikasi berdasarkan penyampaiannya, biasanya komunikasi nonverbal mengutamakan pemahaman terhadap gerak-gerik dari penyaji atau penyampai informasi untuk membentuk atau melakukan pertukaran informasi terhadap satu sama lain, yang pada gilirannya akan mencapai kesepakatan dan kesalingpengertian. Komunikasi nonverbal dapat berupa membaca gerak tubuh (body language), membaca mimik muka, anggukan kepala dan lain sebagainya. Komunikasi mempunyai simbol-simbol yang dapat dipahami komunikan. Komunikasi adalah penyebaran informasi, ide-ide sebagai sikap atau emosi dari seseorang kepada orang lain terutama melalui simbol-simbol. Maka dari itu simbol dapat mewakili komunikasi.

Komunikasi yang sukses membutuhkan upaya dari semua orang yang terlibat dalam percakapan. Dalam hal ini, indera manusia memainkan peran yang penting untuk proses pertukaran informasi. Indera manusia diciptakan untuk membantu manusia berhubungan dengan manusia lainnya. Dalam proses komunikasi, indera mulut untuk berbicara serta telinga sebagai alat pendengaran adalah faktor kunci dalam berkomunikasi. Dengan berbicara seseorang menyampaikan keinginannya kepada orang lain, dan dengan mendengar seseorang mengerti feedback dari pesan yang disampaikan. Kemampuan seperti ini tidak dimiliki orang-orang dengan keterbatasan dalam berbicara dan mendengar atau tunarungu-wicara. Menurut data terakhir yang diungkapkan oleh Departemen Sosial (Depsos) Indonesia pada tahun 2012, jumlah penyandang disabilitas di Indonesia tercatat masih tinggi, salah satunya, orang jumlah penyandang tuna wicara/rungu berjumlah 637.541 jiwa (Kemsos, 2015).

Proses komunikasi yang mereka lakukan tidak seperti manusia normal. Dalam menerima pesan, para tunarungu-wicara tetap menggunakan indera penglihatan dan pedengaran layaknya manusia pada umumnya. Akan tetapi saat berada di posisi komunikator atau memberi feedback, mereka memberi porsi lebih pada pesan nonverbal seperti mimik, intonasi, atau gesture dan ini sesuai dengan pandangan Knapp dan Hall yang merujuk komunikasi nonverbal pada proses komunikasi lain selain penggunaan kata, dengan asumsi kata-kata adalah elemen verbal (Knapp & Hall, 2010, p.5). Hal ini memungkinkan para tunarungu-wicara menyampaikan maksudnya dengan baik. Hal ini yang menarik minat peneliti untuk melakukan penelitian lebih lanjut.

Para penyandang tunarungu-wicara pada umumnya kesulitan mendengar dan mengucapkan kata-kata dengan baik sehingga pengucapannya menjadi tidak lengkap dan jelas. Tepi untuk sebagaian besar penyandang tunarungu/wicara, hal ini bukanlah masalah yang besar. Mereka berusaha mengembangkan kemampuan indera lainnya untuk menutupi kekurangan fisiknya.Ini adalah bentuk adaptasi mereka karena pada akhirnya, semua orang butuh berkomunikasi, entah bagaimana caranya. Pengakuan orang lain akan diri mereka menjadi penting, di sampiing tentang kekuarangan yang mereka miliki. Di zaman ini, penyandang disabilitas sudah tidak di indentikan dengan seseorang yang lemah. Namun banyak dari mereka yang justru berusaha untuk mencari pekerjaan dan bergabung dalam masyarakat luas (Wijaya, 2017).

B Komunikasi Total

Komunikasi total merupakan suatu falsafah yang mencakup cara berkomunikasi dengan menggunakan kombinasi antara aural, manual, dan oral sehingga terjadi komunikasi yang efektif diantara kaum tunarungu dengan masyarakat luas, agar terjadi saling mengerti diantara penerima dan pengirim pesan sehingga tidak terjadi salah paham dan ketegangan (Somad, 2009, p. 21). Menurut Sebald dan Luckner (dalam Frieda, 2014, p. 103) komunikasi total adalah sistem komunikasi yang mencoba untuk memperhatikan hak-hak orangtunarungu dan lawan bicaranya serta suatu sistem komunikasi gabungan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan pada sistem komunikasi oral maupun manual (verbal dan nonverbal) pada orangtunarungu.

Komunikasi dinilai efektif, bila rangsangan yang disampaikan dan dimaksud oleh pengirimnya ataupun sumber pesan, sejalan dengan rangsangan yang ditangkap dan dipahami oleh penerima pesan. (Tubbs & Moss, 2010, p. 24) mengemukakan lima faktor yang dapat dipakai sebagai ukuran untuk menetapkan komunikasi berjalan dengan efektif adalah (1) pemahaman terhadap pesan oleh penerima pesan; (2) memberikan kesenangan kepada pihak-pihak yang berkomunikasi seperti halnya dalam mempertahankan hubungan; (3) mampu mempengaruhi sikap orang lain; (4) memperbaiki hubungan; dan (5) memberikan hasil yang sesuai dengan yang diinginkan dalam bentuk tindakan dari penerima pesan.

Para pendidik di Amerika Serikat setuju bahwa belajar, membaca dan menulis bagi orangtunarungu sangat menguntungkan. Walaupun begitu mereka mempunyai pendidikan yang kuat tentang perbedaan pengajaran bahasa dan metode komunikasi yang seharusnya dipakai.

Kelompok tertentu menekankan komunikasi melalui bicara dan membaca ujaran, metode ini dinamai dengan metode oral. Kelompok lain menekankan kepada penggunaan isyarat, dinamakan metode manual. Dalam komunikasi secara manual, orangtunarungu umumnya menggunakan dua cara bersama-sama, yaitu dengan menyatakan berapa kata melalui bahasa isyarat dan ejaan jari.

Dari metode utama yaitu metode oral dan manual, berkembang beberapa variasi, yaitu metode lisan pendengaran (oral aural), metode auditori, metode Rochester, dan metode simultan (Komunikasi total).

  1. Metode oral aural. Dalam metode ini, orangtunarungu menerima input dengan menggunakan sisa pendengaran melalui bunyi yang diperkeras, membaca ujaran, dan mengekspresikannya melalui Dalam program ini dilarang menggunakan isyarat atau ejaan jari, karena dianggap akan menghambat bahasa dan keterampilan lisan si orangdalam penyesuaiannya dengan orang yang pendengarannya normal. Salah satu keterampilan yang penting dalam metode ini adalah membaca ujaran, yaitu suatu interpretasi visual komunikasi lisan. Hal ini dimaksudkan agar orangtunarungu dapat menerima komunikasi dari mereka yang dapat mendengar, karena sedikit sekali orang mendengar mau mempelajari sistem komunikasi manual yang sulit. Oleh karena itu, orangtunarungu yang ingin berhubungan dengan orang mendengar harus belajar membaca ujaran.
  2. Metode Auditori. Pendekatan ini berpusat pada pengembangan kemampuan orangdalam mendengar. Metode ini meliputi latihan pendengaran, mengajarkan orangtunarungu untuk mendengar bunyi dan membedakan antara bunyi-bunyi yang berlainan. Walaupun metode ini dikembangkan untuk orangdengan kehilangan pendengaran taraf sedang, namun beberapa upaya dari metode ini dapat digunakan untuk penyandang tuna rungudengan taraf berat.
  1. Metode Rochester. Metode ini dikembangkan di kantor Rochester di Rochester New York pada tahun 1978. Metode ini merupakan kombinasi dari metode oral dan abjad menerima informasi melalui membaca ujaran, pengerasan suara, dan abjad jari, kemudian orangmengekspresikannya melalui bicara dan abjad jari. Tuna rungu yang baik dapat mengeja setiap kata seperti yang diucapkannya dengan kecepatan kira-kira 100 kata per menit. Metode ini mendorong oranguntuk membaca dan menulis abjad dan kata-kata.
  2. Metode Simultan. Metode ini disebut juga metode komunikasi total yang merupakan gabungan dari metode oral, isyarat, dan abjad jari. Orangmenerima input melalui, membaca ujaran, pengerasan suara, isyarat dan abjad/ejaan jari, kemudian mengekspresikannya melalui bicara, isyarat dan abjad Isyarat berbeda dengan abjad jari, dengan isyarat memungkinkan mereka menggambarkan ide/kata-kata secara lengkap dari pada menggunakan abjad jari. Istilah komunikasi total mulai popular dan digunakan pada tahun tujuh puluhan. Konfrensi Eksekutif Kantor -Kantor Amerika untuk OrangTunarungu (1976) mendefinisikan komunikasi total sebagai, “suatu falsafah yang membutuhkan pemaduan dari pendengar normal, dan cara komunikasi lisan supaya menjamin adanya komunikasi efektif antara orang- orang yang berkelainan pendengaran”. Metode oral sangat dominan di Amerika Serikat sampai sekitar tahun 1970, setelah itu komunikasi total mulai diakui. Pada saat itu pula para pendidik mulai mempertimbangkan untuk mengembangkan metode simultan/komunikasi total, mengingat kebutuhan individu anak. Dalam waktu singkat terjadi perubahan dalam pendidikan orangtunarungu dimana pengajaran yang semula bertumpu pada penggunaan metode oral bergesar kepada suatu nilai dimana mayoritas program menggunakan metode gabungan oral dan manual (Moores, 2001).

Fungsi Komunikasi Verbal

Secara umum berikut ini adalah fungsi-fungsi komunikasi verbal:

  1. Penamaan
    Penamaan ini bisa dibilang untuk memudahkan mengidentifikasi sebuah benda, object, tindakan ataupun orang. Tanpa komunikasi yang menggunakan bahasa seperti verbal, Anda akan mudah bingung saat mereferensi sesuatu.
  1. Jalur Interaksi dan Transmisi Informasi
    Sebagai alat untuk bertukar ide, komunikasi verbal lebih mudah digunakan. Anda bisa menyampaikan emosi, informasi, empati, maksud dan berbagai hal lain hanya dengan menggunakan kata – kata ataupun kalimat.
  1. Menonjolkan Artikulasi dan Intonasi
    Komunikasi verbal cukup unik karena dalam ungkapan – ungkapan menggunakan bahasa, perbedaan artikulasi dapat menghasilkan arti yang berbeda. Karena hal unik ini tidak ada alat komunikasi selain verbal yang bisa memanfaatkan artikulasi dengan lebih efektif.
  1. Alat Sosialisasi yang Efektif
    Karena komunikasi verbal mudah digunakan, efektif menyampaikan maksud, banyak digunakan dan fleksibel, komunikasi ini sangat bermanfaat untuk bersosialisasi. Hal seperti diskusi, menyapa, sekedar mengobrol dan hal sosial lain tidak akan semudah sekarang jika tanpa komunikasi verbal.
  1. Sebagai Sarana Pengembang Bahasa
    Karena dunia selalu berkembang, banyak hal baru yang muncul dan perlu diidentifikasi. Perkembangan budaya juga menyebabkan gaya bahasa juga berkembang bersamanya. Komunikasi verbal menggunakan bahasa dan karena itu dapat mempengaruhi dalam perkembangan hal tersebut. Kata gaul ataupun istilah internet adalah dua contoh yang bisa dijadikan referensi.

Jenis Komunikasi Verbal

Karena komunikasi dilakukan dua arah jenis komunikasi dapat dibagi dua, yaitu sisi yang memberi dan menerima

  1. Sisi Pemberi
    Jenis komunikasi ini biasanya terdiri dari berbicara dan menulis. Sebagai sisi yang menyampaikan ide, maksud dan informasi, hal ini juga bisa disebut sebagai komunikasi aktif.
  2. Sisi Penerima
    Jenis komunikasi ini biasanya terdiri dari mendengar dan membaca. Sebagai sisi yang menyerap ide maksud dan informasi dari pihak lain, hal ini bisa disebut sebagai komunikasi pasif.

Komunikasi nonverbal adalah proses pertukaran informasi menggunakan tingkah laku. Anda pasti pernah memberikan semacam kode ke orang lain untuk pergi dari suatu tempat hanya menggunakan anggukan atau tatapan mata. Itu adalah contoh komunikasi non verbal.Komunikasi nonverbal sendiri dapat dibagi menjadi beberapa jenis. Berikut ini penjelasan lebih lanjutnya untuk Anda.

Jenis-jenis komunikasi nonverbal, Ekspresi wajah bentuk komunikasi nonverbal, Ekspresi wajah sedih bisa dijadikan komunikasi nonverbal, Rupanya, komunikasi nonverbal bisa dikelompokkan menjadi begitu banyak jenis, seperti:

  1. Ekspresi wajah
    Ekspresi wajah merupakan jenis komunikasi nonverbal yang paling umum digunakan. Bahkan, tidak jarang kita sudah mengetahui informasi yang akan disampaikan lawan bicara, bahkan sebelum ia berbicara, hanya dengan melihat ekspresi wajahnya.Sebagai contoh, satu senyuman atau ekspresi cemberut saja sudah dapat memberikan informasi yang cukup banyak dari lawan bicara.
  1. Tatapan mata
    Tatapan mata berperan besar dalam komunikasi nonverbal. Dari cara melihat, menatap, atau bahkan berkedip pun sebenarnya sudah bisa terjadi suatu penyampaian informasi.Saat melihat seseorang yang disukai, misalnya, maka frekuensi berkedip akan meningkat dan ukuran pupil akan membesar. Sementara itu dari cara melihat seseorang, bisa diketahui perasaan seperti benci atau cinta.Selain itu, hal-hal seperti tidak mampu mempertahankan kontak mata bisa dilihat sebagai tanda seseorang sedang berbohong. Jadi, tatapan mata sebenarnya bisa memberi tahu banyak hal tentang seseorang.
  1. Gestur
    Gestur merupakan salah satu jenis komunikasi nonverbal yang paling mudah dibaca. Contoh komunikasi nonverbal menggunakan gestur adalah menunjuk, melambaikan tangan, maupun memperagakan jumlah angka tertentu. Hal-hal ini tentu merupakan hal yang sangat sering kita lakukan saat berkomunikasi.Bahkan, ini bisa menjadi penolong saat komunikasi verbal tidak bisa dilakukan. Sebagai contoh, saat kita pergi ke luar negeri dan tidak mengerti bahasa yang diucapkan oleh lawan bicara, maka kita bisa menyampaikannya dengan gestur dan informasi pun tetap dapat tersampaikan dengan baik.
  1. Sentuhan
    Dari sentuhan yang kita terima atau berikan ke orang lain, berbagai informasi bisa tersampaikan. Sentuhan menunjukkan keramahan, ajakan, atau bahkan tanda bahaya.Dalam kehidupan sehari-hari contoh komunikasi nonverbal menggunakan sentuhan adalah berjabat tangan atau menepuk lengan maupun bahu. Penampilan masuk komunikasi nonverbal Penampilan menyampaikan banyak informasi tentang diri kita.
  1. Penampilan
    Cara berbusana, pilihan gaya rambut, hingga warna yang kita kenakan, juga masuk sebagai salah satu bentuk komunikasi nonverbal. Sebab ternyata, penampilan bisa menentukan reaksi, interpretasi, hingga penilaian kita terhadap orang lain. Begitu juga sebaliknya.Anda pasti pernah diam-diam menilai orang lain dari penampilannya. Itulah alasannya, first impression adalah hal yang penting. Karena pada pertemuan pertama itulah, orang yang baru bertemu kita akanmengumpulkan informasi mengenai diri kita dari yang dilihatnya.Meski begitu, informasi yang disampaikan dari masing-masing jenis penampilan juga akan berbeda, tergantung dari kondisi sosial dan budaya yang dianut.
  1. Paralinguistik
    Paralinguistik adalah aspek nonverbal dari proses bicara. Contohnya adalah nada bicara, kecepatannya, hingga volume suara kita. Aspek nonverbal inilah yang membantu memberikan konteks pada kata-kata yang diucapkan.Aspek tersebut biasa disebut dengan paralanguage. Nada, kecepatan, hingga volume bicara termasuk di dalamnya. Aspek non-verbal ini memberikan konteks pada kata yang diucapkan.Misalnya, volume suara yang tinggi biasanya digunakan untuk menyampaikan hal yang emosional. Lalu, volume suara yang kecil dipadukan dengan ekspresi wajah sedih akan digunakan untuk menyampaikan kabar duka.
  1. Proxemik
    Komunikasi nonverbal jenis ini mengacu pada jarak dan tempat saat melakukan interaksi. Jarak dan tempat interaksi dilakukan dibagi menjadi 4 zona, yaitu zona publik, sosial, personal, dan intim. Semakin jauh atau dekat jarak antara kita dengan lawan bicara, maka interaksi yang berlangsung pun akan berbeda.Pada zona publik yang memungkinkan komunikasi dilakukan pada jarak sekitar 4 meter, interaksi yang terjadi biasanya formal dan tidak personal. Sementara itu, interaksi pada jarak kurang dari 1 meter pada zona intim biasanya hanya dilakukan dengan keluarga, teman terdekat atau pasangan.
  1. Chronemics
    Waktu dapat memengaruhi terjadinya komunikasi dan hal ini dimasukkan ke dalam komunikasi nonverbal jenis chronemics. Misalnya, komunikasi yang dilakukan saat pagi hari butuh perhatian lebih, agar informasi dapat disampaikan dengan baik. Sebab umumnya, kita belum sepenuhnya siap menghadapi hari.Sebaliknya, saat kita melakukan interaksi atau komunikasi, suasana hati dan ketertarikan dapat memengaruhi kesadaran kita terhadap waktu berlangsungnya komunikasi.Contoh komunikasi nonverbal jenis ini adalah ketika kita sedang berada dalam suatu forum yang membosankan, maka waktu akan terasa berjalan lebih lambat. Sementara itu, apabila kegiatan yang dilakukan menyenangkan, waktu akan terasa lebih cepat terlewati.
  1. Artifak
    Suatu benda atau objek, serta gambar juga bisa dijadikan sebagai alat untuk berkomunikasi secara nonverbal. Benda atau gambar tersebutlah yang disebut sebagai artifak.Contoh bentuk komunikasi ini adalah saat Anda memasang foto profil atau mengunggah gambar tertentu di sosial media. Foto tersebut telah memberikan informasi kepada yang melihatnya mengenai siapa Anda dan hal-hal yang Anda sukai, misalnya.Contoh lainnya adalah seragam. Saat seseorang menggunakan seragam polisi, tentara atau jas dokter, kita bisa dengan mudah mengetahui pekerjaan orang tersebut. Penyampaian informasi ini, juga sudah masuk sebagai suatu bentuk komunikasi nonverbal

C. Tunarungu

Tunarungu merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan keadaan kehilangan pendengaran yang dialami seseorang. Secara umum tunarungu dikategorikan kurang dengar dan tuli, sebagaimana yang diungkap (Hallahan dan Kauffman, 1991, p. 26) bahwa tuna rungu adalah suatu istilah umum yang menunjukkan kesulitan mendengar yang meliputi keseluruhan kesulitan mendengar dari yang ringan sampai yang berat, digolongkan kedalam tuli dan kurang dengar.

Orang tuli adalah seseorang yang kehilangan kemampuan mendengar sehingga menghambat proses informasi bahasa melalui pendengaran, baik memakai maupun tidak memakai alat bantu mendengar, sedangkan seseorang yang kurang dengar adalah seseorang yang biasanya dengan menggunakan alat bantu mendengar, sisa pendengarannya cukup memungkinkan kaberhasilan proses informasi bahasa melalui pendengaran.

Pengertian mengenai tunarungu juga sangat beragam, yang semuanya mengacu pada keadaan atau kondisi pendengaran orangtunarungu. (Somad dan Hernawati, 1996, p. 27) menyatakan bahwa:

“ Tunarungu dapat diartikan sebagai suatu keadaan kehilangan pendengaran yang mengakibatkan seseorang tidak dapat menangkap berbagai rangsangan terutama melalui pendengaran”.

Penyebab ketunarunguan dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu: pada saat sebelum dilahirkan (pranatal), saat kelahiran (natal), pada saat setelah kelahiran (post natal).

Adapun pengertian dari masing-masing faktor sebagai berikut: a) pada saat sebelum dilahirkan (pranatal). 1) Faktor keturunan dari salah satu atau kedua orang tua orangmenderita tunarungu atau mempunyai gen sel pembawa sifat abnormal, misalnya dominat genes, recesive gen, dan lain-lain;

2) Karena penyakit, sewaktu Ibu mengandung terserang oleh suatu penyakit, terutama penyakit- penyakit yang diderita pada saat kehamilan tiga bulan pertama yaitu pada saat pembentukan ruang telinga. Penyakit itu adalah rubella, toximinia, dan lain-lain. Sehingga orangyang dilahirkan menderita tunarungu, selain itu juga mengakibatkan kerusakan pada cochlea sehingga terjadi tunarungu syaraf (perseptif). Penyakit rubella pada masa kehamilan tiga bulan pertama akan berpengaruh buruk pada janin dan merupakan penyebab yang paling umum dikenal sebagai penyebab ketunarunguan. Adapun rubella german measles disini merupakan nama latin dari penyakit cacar atau campak, sedangkan cochlea merupakan struktur yang berbentuk pipa yang dipenuhi oleh cairan yang melengkung seperti rumah siput. Kemudian Ibu yang mengandung menderita keracunan darah atau toximinia, hal ini dapat mengakibatkan kerusakan pada plasenta yang mempengaruhi pertumbuhan janin. Jika hal tersebut menyerang syaraf atau alat-alat pendengaran orangmaka orangakan lahir dalam keadaan tunarungu; b) Pada saat kelahiran (natal).

1) Sewaktu melahirkan Ibu mengalami kesulitan sehingga persalinan dibantu dengan penyedotan (tang). 2) Prematuritas, yakni bayi yang lahir sebelum waktunya: c) Pada saat setelah kelahiran (post natal). 1) Ketulian yang terjadi karena infeksi, misalnya orangterserang Herves Implex, jika infeksi ini menyerang alat kelamin Ibu, dapat menular pada orangsaat dilahirkan. Demikian juga dengan penyakit kelamin yang lain, dapat ditularkan melalui terusan jika virusnya masih dalam keadaan aktif. Penyakit-penyakit yang ditularkan oleh Ibu kepada anaknya yang dilahirkan, dapat menimbulkan infeksi yang dapat menyebabkan kerusakan pada alat-alat atau syaraf pendengaran sehingga menimbulkan ketunarunguan. 2) Meningitis (radang selaput otak). Radang selaput otak atau infeksi pada otak juga dapat menimbulkan ketunarunguan pada anak. 3) Otitis Media. Otitis media adalah radang pada telinga bagian tengah, sehingga menimbulkan nanah yang mengumpal dan mengganggu hantaran banyi. Jika kondisi tersebut sudah kronis dan tidak segera diobati, dapat mengakibatkan kehilangan pendengaran yang tergolong ringan atau sedang. Otitis Media adalah salah satu penyakit yang sering terjadi pada masa anak-orangsebelum usia mencapai 6 tahun. Penyakit ini biasanya terjadi karena penyakit pernafasan yang berat sehingga dapat menyebabkan hilangnya pendengaran. Otitis Media juga dapat ditimbulkan karena infeksi pernafasan dari pilek.

4) Pemakaian obat-obatan otoksi pada anak-anak. 5) Karena kecelakaan yang mengakibatkan kerusakan alat pendengaran bagian tengah dan dalam, misalnya jatuh (Somatri, 2004, p. 90).

Orangtunarungu adalah orangyang mengalami gangguan pendengaran dan percakapan dengan derajat pendengaran yang bervariasi. Ketunarunguan berdasarkan tempat terjadinya kerusakan, dapat dibedakan atas: (1) Kerusakan pada bagian telinga luar dan tengah, sehingga menghambat bunyi-bunyian yang akan masuk kedalam telinga disebut telinga konduktif; dan (2) Kerusakan telinga bagian dalam dan hubungan saraf otak yang menyebabkan tuli sensoris. Jika bicara soal komunikasi, yang mampir ke benak kita mungkin hanya sebatas komunikasi verbal yaitu dengan berbicara satu sama lain. Padahal, ada bentuk komunikasi lain yang sebenarnya tanpa sadar sering kita lakukan, yaitu komunikasi nonverbal.

2. METODE PENELITIAN

Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan metode kualitatif dengan tipe deskriptif. Bogdan dan Taylor (1975) dalam Moleong (2001), mendefinisikan metode kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Menurut mereka, pendekatan kualitatif diarahkan pada latar dan individu tersebut secara holistik (utuh). Jadi, dalam hal ini tidak boleh mengisolasikan individu atau organisasi kedalam variabel atau hipotesis, tetapi perlu memandangnya sebagai bagian dari suatu keutuhan. Sependapat dengan difinisi tersebt, Kirk & Miller (1986), mengemukakan penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergabung pada pengamatan pada manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam peristilahannya.

Ciri penelitian kualitatif melakukan penelitian pada latar alamiah atau pada konteks dari suatu keutuhan (entity). Hal ini dilakukan, karena ontologi alamiah menghendaki adanya kenyataan- kenyataan sebagai keutuhan yang tidak dapat dipahami jika dipisahkan dari konteksnya. Penelitian kualitatif adalah penelitian ilmiah yang rangkaian kegiatan (proses) menjaring informasi dari kondisi apa adanya (sewajarnya) dalam suatu obyek, didasarkan sudut pandang teoritis maupun praktis untuk menjawab suatu permasalahan.

Tipe penelitian kualitatif deskriptif digunakan sebagai prosedur untuk mengemukakan pemecahan masalah penelitian dengan mengetengahkan keadaan obyek yang diteliti, berdasarkan data dari fakta yang aktual pada saat penelitian lapangan berlangsung, menganalisis dan menginterpretasi, tetapi tidak melakukan pengujian hipotesa. Tipe penelitian ini berangkat dari pertanyaan dasar apa, bagaimana dan mengapa. Penelitian lapangan berlangsung dari tanggal 30 Juli 2018 s/d 3 Agustus 2018, di Kantor Luar Biasa Negeri Bagian B Kota Jayapura, Jl. Raya Abepura, Kelurahan Wai Mhorock, Kecamatan Abepura, Kota Jayapura, Provinsi Papua. Alasan dijadikan lokasi penelitian dikarenakan 50 persen orangyang kini sudah menjadi alumni di Kantor Luar Biasa (KANTOR ) Bagian B Kota Jayapura sudah terserap di dunia kerja. Jumlah tersebut paling banyak sebagai pekerja swasta sesuai keahlian bidangnya masing-masing. KANTOR tersebut mendapat dukungan penuh dari pengusaha, BUMN, BUMD untuk menerima orangberkebutuhan khusus bekerja, sebagaimana yang sudah diatur dalam Undang-Undang disebutkan agar satu dari 100 orang dapat diterima sebagai tenaga kerja. Orangberkebutuhan khusus bisa bersaing dengan orang normal. Meski memiliki keterbatasan seperti tunarungu wicara tetapi memiliki wisik yang kuat. Orangtersebut juga bisa bersaing dan menghasilkan karya seperti menjahit, tata boga, tata busana, IT, bahkan ikut lomba tingkat nasional.

Subyek Penelitian adalah individu, dengan Key informan (informan kunci) yaitu Bapak Kepala Kantor yakni Bapak Kamino, kemudian informan berikut ditarik melalui snowball sampling (bola salju), yaitu this is an approach for locating information-rich key informants or critical cases. By asking a number of people who else to talk with, the snowball gets bigger and bigger as you accumulate new information-rich cases (Patton, Michael Quinn, 2001, p. 237). Cara pengambilan informan dengan teknik ini dilakukan secara berantai, makin lama informan menjadi semakin besar seperti halnya bola salju yang menuruni lereng gunung/bukit. Hal ini diakibatkan oleh kenyataan bahwa populasinya sangat spesifik sehingga sulit sekali mengumpulkan informannya. Pada

Tabel 1. Data Key Informan Dan Informan DPP PPDI

 

No N a m a J a b a t a n
1. Bambang Ketua Bidang
2. Rahmita Koordinator bisang Pendidikan
3. Syamsuddin Sekretaris Jenderal
4. Ummu Staft secretariat
5. Naka Wakil bensahara
6. Alam Bendahara
7. Slamet Pembantu Umum

tingkatan operasionalnya, suatu grup/seorang key informan yang relevan diinterview, dan selanjutnya diminta untuk menyebutkan informan lainnya dengan spesialisasi yang sama, yang biasanya saling mengenal karena mereka satu spesialisasi (Durianto, dkk, 2001, p. 34). Dari nara sumber pertama yang berhasil diwawancarai kemudian diminta untuk menyebutkan sumber (informan) kedua dan seterusnya sehingga data kualitatif yang diperoleh semakin kaya untuk kepentingan analisisnya. Wawancara dihentikan manakala dianggap cukup menjawab permasalahan penelitian dan diakhiri ketika informan terakhir memberi jawaban yang sama dan tidak menyimpang dari informan dan key informan sebelumnya.

Dalam metode penelitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan pada natural setting (kondisi yang alamiah), sumber data primer, dan teknik pengumpulan data lebih banyak pada observasi berperanserta (participant observation), wawancara mendalam (in depth interview) dan dokumentasi. Marshall & Roosman (dalam Sugiono,2017, p. 309) menyatakan bahwa “the fundamental methods relied on by qualitative researchers for gathering information are, participation in the setting, direct observation, in-depth interviewing, document review”. Melalui observasi, peneliti mempelajari tentang perilaku komunikasi tunarungu, dan makna dari perilaku tersebut.

Analisis data menurut Patton (1980), adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya kedalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian dasar. Bogdan dan Taylor (1975) mendefinisikan analisis data sebagai proses yang merinci usaha secara formal untuk menemukan tema dan merumuskan hipotesis (ide) seperti yang disarankan oleh data dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan pada tema dan hipotesis itu (Moleong, Lexy 2001, p. 103). Pekerjaan analisis data dalam penelitian ini ialah mengatur, mentuna rungu tkan, mengelompokkan, memberikan kode, dan mengkategorikannya.

Penulisan laporan penelitian melalui dua tahap. Pertama, pengumpulan data baik primer maupun sekunder. Kedua, penulisan draft, revisi dan editing. Tahap editing dilakukan berulangkali untuk menghindari kesalahan baik bersifat substansi (isi) maupun kalimat (redaksional).

 

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1  Pola Komunikasi antara Sesama Tunarungu di lingungan kantor DPP PPDI

Menurut Syamsuddin Syar sekretaris Jenderal PPDI bahwa komunikasi yang berlangsung sesama pentuna rungu s tuna rungu bukan hanya komunikasi yang bersifat nonverbal (isyarat) saja, namum ada juga sebagian orangtunarungu menggunakan bahasa tulisan melalui alat teknologi informasi gawai seperti WhatsApp, Line, Facebook, twitter, SMS. Tuna rungu dengan klasifikasi d tingkatan tunarungu ringan sebagian besar dapat berbicara dengan lawan bicaranya menggunakan komunikasi total yaitu berbicara yang disertai dengan gerakan badan atau isyarat, sekalipun dijumpai juga orangberkomunikasi secara verbal ataupun lisan. Interaksi sosial yang terjadi sesama teman melalui komunikasi total yaitu secara nonverbal, verbal dengan lisan dan tulisan baik melalui alat tulis maupun alat teknologi informasi melalui gawai yang ada di tangannya.

Wawancara mendalam dengan Naka bendahara PPDI, komunikasi yang terjadi sesama orangtunarungu lebih banyak dilakukan komunikasi bertatap muka (face to face), karena sejak awal hingga berakhirnya proses komunikasi mengutamakan indra penglihatan untuk dapat saling beradaptasi memberi dan menerima informasi. Apabila indra penglihatan tidak berfungsi dengan baik atau mereka tidak fokus apa yang dikomunikasikan atau apa yang diterima pesan itu, dapat menimbulkan ketidaksesuaian dalam berkomunikasi. Dengan menggunakan indra penglihatannya yang baik kepada lawan bicara, orangdapat melihat ekspresi dan gerak-gerik dari teman bicaranya sehingga orangpenyandang tunarungu dapat menyimpulkan apa saja yang sedang berlangsung dalam pembicaraan. Orangtunarungu banyak memakai alat komunikasi untuk berhubungan dengan keluarganya, mencari informasi terkait pendidikan atau sebagai alat komunikasi sesama temannya baik lewat WhatsApp, Line, SMS.

Hasil wawancara mendalam dengan staf secretariat DPP PPDI Ummu Aimah komunikasi diantara kawanan tunarungu di lingkungan kantor berlangsung dominan dijumpai proses komunikasi nonverbal, hal ini dikarenakan proses komunikasi menggunakan bahasa isyarat lebih mengandalkan penglihatan, sebab keterbatasan dalam pendengaran, sehingga mereka lebih mengharapkan indra penglihatan untuk merespon komunikasi lawan bicaranya. Komunikasi nonverbal sangat berperan penting dalam proses penyampaian informasi di antara mereka, orangdengan tuna rungu , orangtunarungu dengan lingkungan masyarakat ataupun dengan keluarga di rumah. Komuunikasi nonverbal memberikan sumbangan yang paling dominan dalam komunikasi yang berlangsung pada orangtunarungu. Komunikasi nonverbal bisanya dalam bentuk bahasa tubuh (kinesthetic) dan sentuhan-sentuhan anggota tubuh. Bahasa tubuh dalam berkomunikasi dengan tunarungu, tujuannya untuk memperjelas makna saat berkomunikasi. Sedangkan sentuhan-sentuhan pada anggota tubuh sama halnya dengan pengertian penggunaan bahasa isyarat yaitu sebagai suatu penjelasan makna pesan komunikasi. Sentuhan-sentuhan yang digunakan antara satu dengan yang lain tidak sama hal ini nampak dalam ekspresi dirinya pada lawan bicaranya. Didapat juga orangtunarungu berkomunikasi dengan keluarganya melalui alat komunikasi seperti HP, yang juga digunakan untuk diskusi melalui group WatsApp, Line, SMS, Ficebook, Twitter. Mereka juga mencari informasi-informasi yang berhubungan pelajaran di kantor, pengetahuan, hiburan, olah raga, kesenian.

Selanjutnya wawancara dengan Mitha bahwa proses komunikasi nonverbal yang berlangsung sesama teman tanpa memandang tingkatan ketunarunguannya (ringan, sedang, dan berat). Menurutnya, komunikasi nonverbal ini, merupakan komunikasi yang memberikan rasa nyaman untuk saling berkomunikasi satu sama lain. Disamping itu mereka menyebutkan juga komunikasi total (komponen manual, komponen oral, dan komponen aural) yang merupakan penggabungan komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal merupakan bentuk komunikasi orangtunarungu berkomunikasi dengan lawan bicaranya.

Sementara menurut Bambang wawancaralebih menyukai komunikasi verbal, sekalipun terkadang menggunakan komunikasi nonverbal tergantung berkomunikasi dengan siapa lawan bicara. Sedangkan bagi tunarungu sedang dan berat menggunakan komunikasi nonverbal atau komunikasi total lebih mudah menangkap arti dari informasi itu.

Menurut bahwa Bambang lagi bahwa komunikasi lawan bicara bergantung dari karakter penyandang tunarungu, di situ terjadi penyesuaian-penyesuaian lawan bicara. Kalau tunarungu ringan dengan ringan tentu akan berusaha menggunakan komunikasi verbal atau lisan, kalau tunarungu ringan dengan sedang atau berat tentu untuk berlangsungnya komunikasi melalui komunikasi nonverbal atau jika perlu komunikasi total. Komunikasi itu terjadi manakala ada ketertarikan pesan atau informasi, jika tidak adanya perhatian yang sama biasanya orangtunarungu itu malas dan cepat bosan untuk berkomunikasi satu dengan lainnya.

Menurut komunikasi yang seringkali digunakan untuk tunarungu ringan, sedang ataupun berat jika berkumpul dalam satu percakapan menggunakan komunikasi total karena semua yang ada di situ dapat menangkap semua informasi yang sedang dibicarakan bersama. dan menciptakan pesan melalui jejaring sosial, media online, forum dunia maya dan virtual words (Mayfield, 2008, p. 6), sehingga dalam penggunaannya seringkali tidak menghiraukan peraturan yang berlaku dan dipakai untuk hal yang kurang bermanfaat.

Pada intinya komunikasi total merupakan bentuk komunikasi penggabungan antara komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal. Komunikasi total terdiri dari metode manual, metode oral hingga metode aural, yang merupakan komponen-komponen pada komunikasi verbal dan nonverbal. Metode manual dalam prakteknya menyangkut isyarat baku, ejaan jari, mimik wajah, ekspresi badan, dan isyarat alami. Metode oral merupakan cara berkomunikasi dengan berbicara dan membaca ujaran. Metode oral lebih merujuk bentuk komunikasi secara verbal namun tidak semuanya disuguhkan kedalam bentuk verbal, hanya saja berbicara merupakan perwujudan dari komunikasi verbal. Metode aural merupakan metode komunikasi dengan memanfaatkan sisa pendengaran yang ada pada orangtunarungu tersebut. Penerapan metode aural yang dilakukan untuk berkomunikasi dengan memberikan rangsangan kepada orangtunarungu melalui cara lain misalnya menambahkan alat bantu dengar jika memungkinkan kepada siswa.

4.         PENUTUP

Pola komunikasi orangtunarungu dengan orangtunarungu lainnya tidak memandang klasifikasi tingkatan dalam lingkup satu kantor DPP PPDI berlangsung komunikasi total secara baik dan efektif. Meskipun pada kenyataannya ada orangtunarungu yang tidak bisa berkumunikasi secara verbal dalam aspek komunikasi secara lisan dikarenakan keterbatasan dan tingkat ketunarunguan yang dimilikinya. Proses komunikasi secara nonverbal pada orangtunarungu merupakan suatu bentuk komunikasi yang sangat menunjang dalam proses komunikasi yang akan memberikan kemudahan dari segi menerima dan menyampaikan informasi dari orangtunarungu kepada lawan bicaranya atau sebaliknya. Hadirnya teknologi komunikasi dan informasi seperti gawai yang terhubung dengan internet memudahkan komunikasi sesama teman tunarungu yang mengandalkan panca indera penglihatan ataupun dengan tuna rungu , dan keluarga. Komunikasi dengan menggunakan gawai membicarakan mata pelajaran bidang studi, informasi ekstrakurikuler, hiburan, seni, dan olahraga.

Proses komunikasi total terdiri atas tiga metode, yaitu oral, manual dan aural. Ketiga metode tersebut merupakan proses komunikasi secara verbal dan nonverbal. Keterbatasan pendengaran, jangan sampai dipandang sebagai orang yang tidak bisa apa-apa atau menjadi beban dan harus dikasihani. Karena itu, kesetaraan sebuah keharusan. Sehingga perlu bagi penyandang tunarungu itu diberi aksesibilitas yang sama dengan warga normal agar bisa mandiri dan sukses.

Memberikan perlindungan secara hukum dalam bentuk peraturan daerah. Memberikan bantuan alat bantu dengar, penyedian berbagai pelatihan bagi penyandang tunarungu, antara lain teknisi ponsel, komputer, tata boga, tata busana, dan keterampilan lainnya sesuai minat dan penyedian taman inklusi agar penyandang tunarungu bisa berkegiatan dan bermain merupakan suatu keharusan. Konsep pendampingan dan pemberdayaan disabilitas, perlu dibangun dalam satu wadah.

DAFTAR PUSTAKA

 

Durianto, dkk. (2001). Strategi Menaklukan Pasar, Melalui Riset Ekuitas dan Perilaku Merek. Jakarta: Gramedia.

Formanika KS. (2014). Komunikasi Total sebagai Model Komunikasi pada OrangTunarungu (Studi Kasus pada OrangSmulb Negeri Bontang). Jurnal Ilmu Komunikasi, 2 (2), 213-222

Frieda, Mangunsong. (2014). Psikologi dan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Jilid 1. Jakarta:

Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3).

Hallahan dan Kauffman. (1991). Exceptional Children (Introduction to Special Education), Fifth Edition.

University of Virgina: Prentice-Hall International, Inc.

Kementrian Sosial RI. (2015). Sinkronisasi Program Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Netra,Rungu Wicara di Masyarakat.

Kirk & Miller. 1986. Reliability and Validity in Qualitative Research, Vo. 1, Beverly Hills: Sage Publication. Knapp, Mark L., J. A. Hall. (2010). Nonverbal communication in human communication. New York:

Rinehart & Winston.

Liliweri, Alo. (2015). Komunikasi Antarpersonal. Jakarta: Kencana. Mayfield, Antony. (2008). What is Social Media?.

Moleong, Lexy J. (2001). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Moores, Donald F. (2001). Educating The Deaf: Psychology, Principles and Practices. Boston: Hough Mifflin Company.

Patton, Michael Quinn. (2001). Qualitative Research & Evaluation Methods. Sambas, Syukardi. (2015). Sosiologi Komunikasi. Bandung. Pustaka Setia.

Somad. (2009). Pengembangan Keterampilan Oral/Aural, Manual dan Komtal. Bandung: BPG KANTOR Provinsi Jawa Barat.

Somad dan Hernawati. 1996). Ortodidaktik Tunarungu. Jakarta: Depdikbud. Somatri, T Sutjihadi. (2004). Identifikasi OrangLuar Biasa. Jakarta: Dikdasmen.

Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Bandung: ALFABETA.

Sulastri. (2013) Meningkatkan Kemampuan Komunikasi melalui Metode Komunikasi Total bagi OrangTunarungu Kelas II Di KANTOR Kartini Batam. Jurnal Ilmiah Pendidikan Khusus, 2 (2), 210- 219

Susanto Harry, Eko. (2018). Komunikasi Manusia: Teori dan Praktek dalam Penyampaian Gagasan. Jakarta: Mitra Wacana Media.

Tubbs and Moss. (2010). Human Communication: Konteks-Konteks Komunikasi, Buku I, terjemahan Deddy Mulyana dan Gembirasari. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.

Wijaya, Immanuel Khomala. (2017). Proses Komunikasi Interpersonal Bawahan Tunarungu-Wicara dengan Atasannya (Supervisor) di Gunawangsa Hotel Manyar Surabaya. Jurnal e-Komunikasi, 5(1), 1-12

Winangsih, Syam Nina. (2009). Sosiologi sebagai Akar Komunikasi. Semarang: Simbiosa Rektama Media.

Leave Comment

PPDI MEMILIKI

0
DPD
0
DPC
0
PPK
0
OPD

Post Terbaru

Back to top