DPP PPDI

Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia

Menengok Kesibukan Penerjemah Bahasa Isyarat untuk Debat Pilpres Menengok Kesibukan Penerjemah Bahasa Isyarat untuk Debat Pilpres
TRI MUJOKO BAYUAJI, Jakarta TAYANGAN langsung Debat Pilpres menjadi salah satu acara yang ditunggu-tunggu penonton televisi dalam beberapa pekan terakhir. Tidak hanya masyarakat umum,... Menengok Kesibukan Penerjemah Bahasa Isyarat untuk Debat Pilpres
TRI MUJOKO BAYUAJI, Jakarta
TAYANGAN langsung Debat Pilpres menjadi salah satu acara yang ditunggu-tunggu penonton televisi dalam beberapa pekan terakhir. Tidak hanya masyarakat umum, masyarakat yang berkebutuhan khusus atau disabilitas tuna rungu juga menyaksikan debat yang berisi adu visi, misi, dan pandangan kandidat calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres).
Beruntung, kebutuhan masyarakat disabilitas –terutama tuna rungu– terbantu oleh kerja para penerjemah bahasa isyarat. Sejak debat pilpres kedua, Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menugaskan para penerjemah itu memberikan bantuan kepada para disabilitas memahami pernyataan para kandidat.
”Ini memang kelanjutan dari MoU (nota kesepahaman) antara PPUA Penca (Pusat Pemilihan Umum Akses Penyandang Cacat, Red) dengan KPU sejak simulasi pemilu legislatif lalu,” ujar Pingkan CR Warouw, salah satu penerjemah bahasa isyarat. Pinky, sapaan akrabnya, tidak sendiri. Dia bersama tiga koleganya, silih-berganti menyampaikan bahasa isyarat di setiap segmen debat.
Tiga rekannya adalah Edik Widodo, Winda Utami, dan Pat Sulistyowati. ”Kalau Ibu Pat adalah seorang disabilitas sekaligus guru bahasa isyarat kami,” ujarnya memperkenalkan sosok Pat. Selama harian ini melakukan wawancara, secara bergantian dari mereka menyampaikan apa yang disampaikan dalam wawancara itu kepada Pat. Edik menyebut, bukan hal mudah untuk menerjemahkan apa yang disampaikan para kandidat kepada para warga disabilitas.
Antara satu debat dengan debat yang lain memiliki tema berbeda dan spesifik. Para penerjemah harus mempersiapkan dengan matang, ratusan kata dan istilah yang memiliki keterkaitan dengan tema debat. ”Setiap debat selesai, besoknya kami sudah harus browsing, mempersiapkan kata-kata dan istilah apa yang kira-kira muncul dalam debat nanti,” kata Edik.
Menurut Edik, selama ini tidak pernah ada kisi-kisi yang disampaikan KPU maupun tim pemenangan pasangan calon terkait apa yang akan disampaikan kandidat dalam debat. Semua materi, pertanyaan, hingga jawaban bersifat rahasia. Karena itu, para penerjemah harus kaya kosakata sebelum tampil live di depan kamera televisi. ”Semuanya kan rahasia, jadi kami yang mempersiapkan sendiri,” ujarnya.
Mempersiapkan kata-kata pun bukan hal mudah. Saat sudah menemukan kata, para penerjemah berdiskusi bagaimana cara menyampaikan kata-kata itu kepada para penyandang disabilitas di televisi nanti. Satu kata pun, kata Edik, bisa menggunakan banyak gerakan. ”Misalkan bilang teknologi nuklir. Bilang nuklir pun harus kita terjemahkan bahan kimia dicampur, lalu meledak.
Banyak gerakannya,” ujarnya memberi gambaran. Namun, tidak jarang, banyak kata-kata yang luput dari hasil browsing. Misalkan, kata-kata “kerjasama tripartit antara pemerintah, swasta, dan publik dalam inovasi teknologi”, dalam debat keempat sempat disampaikan salah satu kandidat cawapres dalam bahasa Inggris. Para penerjemah harus bisa menerjemahkan itu secara cepat dan real time.
“Makanya kami bekerja berempat, saling membantu. Kami harus sehati saat menyampaikan kata-kata,” ujarnya. Menurut Edik, banyak kata-kata yang disampaikan kandidat adalah istilah sulit, sehingga harus lebih cermat dalam menyampaikan kepada para penderita disabilitas. ”Misal kata energi terbarukan, kalau diterjemahkan langsung pasti aneh.
Harus dicari padanannya kalau energi terbarukan itu bisa disebut energi alternatif,” ujar Edik yang sehari-hari bekerja di gereja itu. Dari beberapa kali debat, Edik menyebut jumlah kata-kata “asing” paling banyak muncul di debat keempat. Menurut dia, kandidat cawapres baik Jusuf Kalla maupun Hatta Rajasa banyak menyampaikan istilah yang menurutnya awam dipahami. “Kami sampaikan istilahnya, lalu dibantu Ibu Pat untuk menyampaikan gerakannya,” ujarnya.
Pinky kemudian menambahkan, satu hal yang ditekankan kepada para penerjemah dari KPU adalah netralitas. Sejak ditetapkan sebagai penerjemah, mereka sudah bekerja di bawah sumpah untuk menjaga netralitasnya. Sumpah itu biasanya dilakukan dalam setiap debat. Namun, pada debat keempat, sumpah itu luput dilakukan oleh panitia dari KPU. ”Kami harusnya sejak sore sudah disumpah.
Tapi sepertinya pada sibuk, sehingga lupa,” ujar Pinky sambil tertawa. Namun, Pinky memastikan bahwa para penerjemah tetap bekerja netral meski panitia lupa mengambil sumpah. Dari satu debat ke debat lain, kata Pinky, terus dilakukan perbaikan. Jika di debat pertama, banyak penderita disabilitas yang mengeluh karena gambar para penerjemah terlalu kecil. Para penderita disabilitas sampai harus mendekat ke televisi untuk memahami apa yang disampaikan penerjemah.
”Kalau untuk debat yang terakhir ini, sudah lebih besar gambarnya. Background-nya juga polos biru, sudah bagus. Kalau sebelumnya, background-nya ada yang tembok, ada yang jendela,” kata Pinky. Masalah latar belakang, kata Pinky, memang krusial. Jika polos, para penderita disabilitas akan dengan mudah menangkap gerak para penerjemah.
Selanjutnya, para penerjemah juga sengaja menggunakan baju dan celana serba-hitam agar memudahkan para penderita disabilitas menangkap gerak. ”Standar bajunya memang hitam polos, biar tidak flicker saat dilihat di televisi,” ujarnya. Jika para penonton normal melihat para penerjemah melakukan gerakan tidak hanya tangan, namun juga wajah, bahkan gerak tubuh, Pinky menyebut hal itu merupakan normal.
Para penerjemah, harus mengikuti gestur, mimik, hingga ekspresi para kandidat untuk disampaikan ke penderita disabilitas. ”Bukan karena kami memihak. Kami memang harus menyesuaikan, harus terlihat komikal, demi orang disabilitas,” ujar perempuan yang kesehariannya sebagai penyelamat binatang itu. Karena gerakan yang terkesan berlebihan itu, kata Pinky, banyak orang yang sejatinya berisyarat tapi tidak mau terjun.
Menurut dia, jika melihat statistik, jumlah penderita disabilitas mencapai puluhan, bahkan ratusan ribu. Dari jumlah itu, dibutuhkan setidaknya empat ribu penerjemah untuk membantu mereka. ”Tapi, jumlah yang ada sekarang masih sangat kurang. Di Jakarta saja baru ada 14 orang. Dari 14 orang, cuma tujuh orang saja yang berani tampil,” ujar Pinky yang juga salah satu anggota World Association of Sign Language Interpreter (WASLI) itu.(jpnn/zal/k9)
Sumber: Kaltim Post

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Your email address will not be published. Required fields are marked *