DPP PPDI

Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia

Paini, Kartini Bekasi Masa Kini Paini, Kartini Bekasi Masa Kini
MEMPUNYAI keterbatasan fisik, tidak menyurutkan Paini untuk berprestasi. Segudang penghargaan pernah diraih oleh warga yang menetap di Kelurahan Bojongmenteng Rawalumbu Kota Bekasi ini. Di... Paini, Kartini Bekasi Masa Kini

MEMPUNYAI keterbatasan fisik, tidak menyurutkan Paini untuk berprestasi. Segudang penghargaan pernah diraih oleh warga yang menetap di Kelurahan Bojongmenteng Rawalumbu Kota Bekasi ini.

Di tengah kesibukannya sebagai ibu rumah tangga, Paini aktif di dalam organisasi Kelompok Usaha Bersama Penyandang Disabilitas, dan Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia. Setiap harinya, dia juga aktif memberi pelatihan keterampilan bagi para wara disabilitas lainnya.

Paini mengaku bahwa sejak dari lahir mempunyai kekurangan pada jari tangan dan kakinya. Namun hal ini tidak membuat dirinya patah semangat untuk menjalani kehidupannya. Karena tekad dan semangatnya tersebut, Paini justru menjadi inspirasi bagi wanita yang lain.

“Saya berusaha berjuang meskipun sebagai penyandang disabilitas, selain itu juga merangkul rekan-rekan untuk belajar membuat kerajinan dan membuat kue untuk dijual,” jelasnya saat Radar Bekasi berkunjung di kediamannya, kemarin.

Sejak tahun 2007, wanita yang kini berusia 42 tahun tersebut rutin menjalani kegiatan sosial. Dia berkeliling dari satu daerah ke daerah lainnya untuk memberikan ilmu kepada para penyandang disabilitas untuk lebih produktif lagi. Paini mengajarkan kepada mereka bagaimana cara membuat makanan dan minuman, membuat aksesoris, handycraft, pakaian, dan lainnya.

Dia mengaku, hanya melakukan pembinaan dan pelatihan kepada sesama wanita disabilitas. Kata dia, jika yang dibina dan diberikan pelatihan sudah bisa mandiri, dia akan mempersilakan untuk bisa mandiri.

“Sudah ada sekitar 40 orangan rekan-rekan yang bersama saya bina bisa hidup mandiri dan usaha senidri, jadi di sini mah keluar masuk saja orangnya,” ujarnya seraya mengatakan saat ini ada tujuh orang disabilitas yang sedang dibinanya.

Wanita berhijab ini selain menampung para wanita disabilitas di kediamannya untuk dilakukan pembinaan, Ia juga menampung dan mengasuh anak yatim.

“Saya hanya menjalankan apa yang telah Allah berikan kepada saya, sepertinya yang saya rasakan ini adalah petunjuk Allah, sebab dari tahun 1992 saya ke Kota Bekasi dari Seragen sudah melakukan kegiatan sosial,” paparnya.

Dengan penghasilan Rp10 juta-12 juta per bulan, wanita yang lebih akrab disapa bunda oleh rekannya ini, bisa menghidupi rekan-rekan sesama disabilitas di kediamannya. “Karena dari awal saya hanya memproduksi onde-onde, namun berjalannya waktu saat ini sudah bisa membuat 7 produk makanan,” bebernya.

Kepada Radar Bekasi, dia menjelaskan produk yang dihasilkannya, di antaranya, sambel pecel, steak bawang, steak keju, emping jagung, akar kelapa, singkong gadung, onde-onde. Adapun untuk memasarkan produknya ia menyuplai di koperasi, perkantoran, dan aktif di bazar-bazar.

Salah satu penyandang disabilitas yang dalam pembinaan Eni (19) mengatakan, Paini dianggap sebagai pahlawan, karena mampu mengangkat drajat kaum disabilitas. “Bunda ada sosok pejuang bagi kami, meskipun saya di sini merasa numpang, tapi bunda memberlakukan kita sebagai sahabat ataupun rekan, bukan sebagai anak buah. Dan menurut saya memang sangat pantas bunda dinobatkan sebagai Kartini masa kini,” paparnya. (and)

Sumber: pojoksatu.id

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Your email address will not be published. Required fields are marked *