– POLA KOMUNIKASI INTERNAL MELALUI WHATSAP PADA ORGANISASI PERKUMPULAN PENYANDANG DISABILITAS INDONESIA

Simbol kursi roda
symbol tunanetra
symbol tuna rungu
symbol disabilitsa intelektual

Gufroni Sakaril ketum PPDI

Drs. Gufroni Sakaril, MM

Ketua Umum PPDI

PROFIL SINGKAT

 

Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) merupakan organisasi payung dan beranggotakan beragam organisasi disabilitas di Indonesia yang didirikan pada tahun 1987.

Visi lembaga ini adalah mewujudkan partisipasi penuh dan persamaan kesempatan penyandang disabilitas dalam seluruh aspek kehidupan. PPDI berfungsi sebagai lembaga koordinasi dan advokasi bagi anggota-anggotanya, sedangkan bagi pemerintah PPDI merupakan mitra dalam penyusunan berbagai kebijakan dan program berkaitan penyandang disabilitas.

PPDI memiliki jaringan kerja hampir diseluruh provinsi di Indonesia dan merupakan anggota dari Disabled People Internasional. Sejak tahun 2005, PPDI bersama organisasi jaringannya aktif mendorong dan memberikan konsep naskah akademis bagi proses ratifikasi CRPD hingga diterbitkannya UU No. 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas.

MITRA PPDI


Logo Kementerian Sosial



Logo Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

logo Whatsapp

Gufroni Sakaril

ABSTRAK:

Teknologi Informasi mempunyai banyak pengaruh pada setiap  aspek kehidupan manusia, terutama dalam hal komunikasi. Salah satu bentuk perkembangan teknologi dalam hal komunikasi ialah berkembangnya media komunikasi melalui WhatsApp. Di era yang modern ini penggunaan aplikasi WhatsApp menjadi perihal yang umum dilakukan oleh organisasi untuk mempermudah komunikasi dan koordinasi kerja. Tujuan dari adanya penelitian ini ialah mendeskripsikan peranan aplikasi WhatsApp dalam komunikasi organisasi Pengurus Organisasi Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia,. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dan pendekatan deskriptif, peneliti melakukan wawancara mendalam dengan narasumber, dan menggunakan triangulasi data. Pola komunikasi organisasi yang dilalukan melalui whatsapp lebih terbuka, fleksibel dan informal. Pesannya sendiri lebih banyak bersifat informative, edukatif dan persuasif. Pola Komunikasi yang digunakan oleh pengurus Perkumpulan Penyandang Disabilitas adalah pola kmunikasi bintang dimana semua anggota adalah sama dan semuanya juga memiliki kekuatan yang sama untuk memengaruhi anggota pengurus

ABSTRACT :

Information Technologi have a lot of influence on every aspect of human life, especially in terms of communication. One form of technological development in terms of communication is the development of communication media through WhatsApp. In this modern era, the use of the WhatsApp application is a common thing done by organizations to facilitate communication and work coordination. The purpose of this research is to describe the role of the WhatsApp application in organizational communication of the Indonesian Association of Persons with Disabilities Organizational Management. By using qualitative research methods and descriptive approaches, researchers conducted in-depth interviews with informants, and used data triangulation. The pattern of organizational communication through WhatsApp is more open, flexible and informal. The message itself is more informative, educative and persuasive. The communication pattern used by the administrators of the Association of Persons with Disabilities is a star communication pattern where all members are the same and all of them also have the same power to influence the board members

PENDAHULUAN

WhatsApp atau WhatApp Messenger merupakan media komunikasi yang dapat digunakan dengan menggunakan kata-kata maupun suara dengan hanya menekan tombol tertentu. WhatsApp  adalah aplikasi pesan untuk ponsel canggih yang banyak digunakan masyarakat. WhatsApp merupakan aplikasi pesan lintas platform yang memungkinkan kita bertukar pesan tanpa pulsa, karena WhatsApp Messenger menggunakan paket data internet. Aplikasi WhatsApp Messenger menggunakan koneksi internet 3G, 4G atau WiFi untuk komunikasi data. Dengan menggunakan WhatsApp, kita dapat melakukan obrolan daring, berbagi file, bertukar foto, dan lain-lain

Perkumpulam Penyandang Disabilitas Indonesia yang memiliki 32 perwakilan di propinsi menggunakan whatsapp dalam berkomunikasi dan berinteraksi. Salah satunya adalah divisi planning and scheduling, divisi yang sangat sibuk dan dituntut untuk cepat dan cermat dalam melakukan tugas, selalu melakukan komunikasi dan koordinasi setiap saat, untuk memastikan jalannya siaran. Biasanya organisasi identik dengan suatu hirarki sistematis dalam pembagian kerja dalam rangka mencapai tujuan yang telah diterapkan secara struktural dan sistematis, yang saling berinteraksi dalam wewenang tertentu, dan terdapat pola komunikasi organisasi yang khas, seperti pola komunikasi Vertikal, Horizontal dan Diagonal. Bagaimana jika suatu organisasi yang memiliki hierarki kepangkatan terbentuk dan terjadi dalam sebuah group online melalui aplikasi WhatsApp messenger yang karakteristikya tidak terbatas dan membentuk suatu pola komunikasi, apakah pola tersebut ada dan digunkan dalam komunikasi organisasi, dan bagaimana proses komunikasi terjadi apakah masih mempertahankan pola komunikasi atau menghilangkan sekat hirarki dalam organisasi.

Komunikasi merupakan proses penciptaan makna terhadap gagasan yang disampaikan kepada pihak lain. Onong Uchjana Effendy berpendapat bahwa pengertian komunikasi harus dilihat dari dua sudut pandang, yaitu pengertian secara umum dan pengertian secara paradigmatik. Pengertian komunikasi secara umum itupun harus juga dilihat dari dua segi, yaitu pengertian komunikasi secara etimologis dan pengertian komunikasi secara terminologis. Secara etimologis, komunikasi berasal dari bahasa Latin communicatio yang bersumber dari kata communis yang berarti sama. Kata sama yang dimaksudkan adalah sama makna. Jadi dalam pengertian ini, komunikasi berlangsung manakala orang-orang yang terlibat di dalamnya memiliki kesamaan makna mengenai suatu hal yang tengah dikomunikasikannya itu. Dengan kata lain, jika orang-orang yang terlibat di dalamnya saling memahami apa yang dikomunikasikannya itu, maka hubungan antara mereka bersifat komunikatif

Komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih dengan cara yang tepat sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami. Dengan demikian, pola komunikasi disini dapat dipahami sebagai pola hubungan dua orang atau lebih dalam pengiriman dan penerimaan pesan dengan cara yang tepat sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami. Menurut Tubbs dan Moss dalam Mulyana (2006:26) mengatakan bahwa pola komunikasi dapat diciptakan oleh hubungan komplementaris atau simetri. Dalam hubungan komplementer, satu bentuk perilaku akan diikuti oleh lawannya.

Komunikasi Efektif

Berkomunikasi yang sesuatu hal yang mudah dilakukan, mengingat semenjak kecil kita sudah biasa melakukannya. Namun dalam konteks tertentu, terutama jika komunikasi yang ingin kita lakukan bertujuan untuk mendapatkan dampak  dari komunikan dan sesuai dengan apa yang kita inginkan menjadi tidak mudah. Untk itu komunikasi yang efektif menjadi penting. Dalam kondisi demikian, tentu ada beberapa syarat yang harus kita penuhi sebagai seorang komunikator agar pesan yang akan kita sampaikan tadi didengar oleh komunikan dan menghasilkan efek tertentu. Terpenuhinya syarat-syarat itu dengan sendirinya akan membuat komunikasi yang kita lakukan menjadi efektif.

Mengacu pada rumus Lasswell tersebut, maka kita melihat ada lima komponen yang oleh banyak ahli komunikasi dinilai sebagai komponen pokok komunikasi, yaitu : omunikator (source), pesan (message), media (channeI), komunikan (receiver), dan Efek (effect). Paparan di bawah ini sengaja penulis fokuskan hanya pada komponen “Pesan”. Dalam komunikasi efektif, agar pesan yang disampaikan komunikator dapat menghasilkan feedback, maka harus memiliki criteria diantarnya pesan yang efektif. Dalam hal ini pesan harus menarik mudah difahami, dan dapat memotivasi orang untuk bertindak., Allan H. Monroe membuat teknik penyusunan pesan yang kemudian disebut “motivated sequence” (T. Suprapto : 1994, 42) dan ini merupakan teknik penyusunan pesan paling terkenal dan paling awal ia lakukan, yaitu :

  1. Attention (perhatian).
  2. Need (kebutuhan).
  3. Satisfaction (kepuasan).
  4. Visualization (visualisasi), dan
  5. Action (tindakan)

Pola Komunikasi

Pola merupakan  bentuk (struktur) yang tetap. Sedangkan komunikasi adalah proses penciptaan arti terhadap gagasan atau ide yang disampaikan. Komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih dengan cara yang tepat sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami; hubungan, kontak. Dengan demikian, pola komunikasi di sini dapat dipahami sebagai pola hubungan antara dua orang atau lebih dalam pengiriman dan penerimaan pesan dengan cara yang tepat sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami.

Awal terjadinya komunikasi karena ada sesuatu pesan yang ingin disampaikan. Siapa yang berkepentingan untuk menyampaikan suatu pesan berpeluang untuk memulai komunikasi. Yang tidak berkepentingan untuk menyampaikan suatu pesan cenderung menunda komunikasi. Komunikasi berpola stimulus-respons adalah model komunikasi yang masih terlihat dalam kehidupan keluarga. Komunikasi berpola stimulus-respons berbeda dengan komunikasi berpola interaksional. Dalam komunikasi berpola kedua belah pihak yang terlibat dalam komunikasi sama-sama aktif dan kreatif dalam menciptakan arti terhadap ide gagasan yang disampaikan via pesan, sehingga jalannya komunikasi terkesan lebih dinamis dan komunikatif.

Komunikasi berarti mentransfer pesan dari satu ke yang lain dan memiliki beberapa bentuk seperti intrapersonal, interpersonal, kelompok dan komunikasi massa. Komunikasi kelompok memiliki pola tertentu dalam sendirinya. Garis-garis yang terhubung menunjukan arah pesan itu mengalir. Beberapa pola yang popular dar website dalam studi komunikasi seperti1:

    1. Pola Komunikasi Roda, pemimpin yang menjadi fokus perhatian. Ia dapat berhubungan dengan seluruh anggota kelompok, tetapi setiap anggota kelompoknya hanya dapat berhubungan dengan pemimpinnya. Jadi pemimpin sebagai komunikator dan anggota kelompok sebagai komunikan yang dapat melakukan feedback pada pemimpinnya namun tidak dapat berinteraksi dengan sesama anggota kelompoknya karena yang menjadi fokus hanya pemimpin tersebut.
    2. Pola Komunikasi Rantai. Satu anggota hanya dapat berkomunikasi dengan satu anggota lain lalu anggota lain tersebut dapat menyampaikan pesan pada anggota lainnya lagi begitu seterusnya..
    3. Pola Komunikasi Bintang. Pola bintang hampir sama dengan struktur lingkarang dalam arti semua anggota adalah sama dan semuanya juga memiliki kekuatan yang sama untuk memengaruhi anggota lainnya. Akan tetapi, dalam struktur semua saluran, setiap anggota bisa berkomunikasi dengan setiap anggota lainnya. Pola ini memungkinkan adanya partisipasi anggota secara optimum
    4. Pola Komunikasi Lingkaran. Dalam pola circle, pengirim (Group Leader) dapat berkomunikasi dengan penerima (anggota kelompok) yang ada disampingnya. Tidak ada anggota kelompok yang lain yang tidak dapat menerima pesan. Mereka menerima pesan dan berbagi pesan dari pengirim.
    5. Pola Komunikasi Y. Terdapat tiga orang anggota dapat berhubungan dengan orang orang disampingnya seperti pada pola rantai, tetapi ada dua orang yang hanya dapat berkomunikasi dengan seseorang disampingnya.

Komunikasi memiliki peran yang sangat penting dalam semua kegiatan manusia, baik individu maupun organiasasi. Peran komunikasi dalam organiasasi sangat diperlukan guna tercapainya hubungan yang baik antar anggota dan demi tercapainya suatu tujuan bersama. Seiring dengan terjadinya komunikasi yang terus dilakukan, pola komunikasi dalam organisasi tersebut akan terbentuk dengan sendirinya, dan setiap organisasi pasti memiliki pola komunikasi yang berbeda-beda. Cara penyampaian pesan, media yang digunakan, serta aturan dalam berkomunikasi merupakan bagian dari pola komunikasi.

Pola komunikasi menentukan pembentukan alur dan suasana komunikasi. Suasana yang bersifat kekeluargaan pada saat berkomunikasi diyakini dapat mendorong anggota organisasi untuk dapat berkomunikasi secara lebih terbuka, tidak canggung (luwes) dengan anggota organisasi lainnya. Oleh karena itu, peranan komunikasi semakin tidak terelakan, untuk kepentingan berinteraksi, memecahkan masalah, atau untuk menjalin hubungan baik dengan sesamanya. Demikian pula bila dilihat dari sudut pandang organisasi sebagai suatu kesatuan sosial yang terdiri dari orang atau kelompok orang yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai suatu tujuan bersama (Robbins, 1994:4), komunikasi memiliki peranan penting, salah satunya dalam menjalin hubungan dengan para stakeholder.

Salah satu hal penting dalam memahami komunikasi organisasi adalah bahwa kita seyogianya memahami pendekatan-pendekatan yang mempengaruhi cara berpikir atau cara pandang terhadap organisasi. Organisasi menurut Robbins (2003:4) diartikan sebagai suatu unit (satuan) sosial yang dikoordinasikan dengan sadar, yang terdiri dari dua orang atau lebih, yang berfungsi atas dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai suatu tujuan atau serangkaian tujuan bersama. Pace & Faules (2013:11) mengemukakan bahwa terdapat dua pendekatan dalam memahami organisasi, pendekatan objektif dan pendekatan subjektif. Dalam pandangan “subjektif”, komunikasi organisasi menunjukkan bahwa relalitas itu sendiri adalah konstruksi sosial, realitas sebagai suatu proses kreatif yang memungkinkan orang menciptakan apa yang ada “di luar sana”.

Pendekatan subjektif memandang organisasi sebagai kegiatan yang dilakukan orang-orang, terdiri dari tindakan-tindakan, interaksi, dan transaksi yang melibatkan anggota-anggota organisasi. Organisasi diciptakan dan dipupuk melalui kontak-kontak yang terus menerus berubah yang dilakukan orang-orang antara yang satu dengan lainnya dan tidak eksis secara terpisah dari orang-orang yang perilakunya membentuk organisasi tersebut.

Pola komunikasi kelompok yang biasanya dilakukan secara langsung atau tatap muka, kini telah mengalami perubahan. Hal ini menunjukan adanya pergeseran pola komunikasi yang beralih menggunakan teknologi atau media baru (New Media).

New Media atau media baru bukanlah media cetak, eletronik, maupun radio, media baru lebih dikenal dengan sebutan intenet. Definisi new media dapat dibatasi sebagai ide, perasaan, dan pengalaman yang diperoleh seseorang melalui keterlibatanya dalam medium dan cara berkomunikasi yang baru, berbeda dan lebih menantang (Peter Ride & Andrew Dewdney, 2006:4).

WhatsApp

Pengaruh media sosial pada era teknologi menjadikan ketergantungan masyarakat kepada komunikasi dan interaksi melalui media sosial daripada bertemu secara langsung.Media sosial memungkinkan penggunanya untuk saling bersolialisasi dan berinteraksi, berbagi informasi maupun menjalin kerja sama. Diantara berbagai jenis media sosial yang memudahkan pengguna untuk salingberinteraksi dan berkomunikasi, serta dapat digunakansebagai forum diskusi dan penyebaran materi pembelajaran salah satunya ialah WhatsApp(Astika, 2017).

WhatsApp Messenger merupakan salah satu media baru yang digunakan untuk bekomunikasi. Dengan koneksi internet WhatsApp Messenger dapat di gunakaan untuk berkomunikasi dengan mengirimkan pesan, melakukan panggilan suara, panggilan video, mengirim gambar, mengirimkan file atau dokumen dan lain-lain.

Dalam Buku yang dityulis  Nuruddin  berjudul Pengantar Komunikasi Massa  terdapat teori deteminisme tekonolgi. Teori ini dikemukakan Marshall McLuhan dalam tulisannya The Guttenberg Galaxy: The Making of Typographic Man. Ide dasar teori ini bahwa perubahan yang terjadi pada berbagai macam cara berkomunikasi akan membentuk pula keberadaan manusia itu sendiri. Teknologi membentuk individu bagaimana cara berpikir, berperilaku dalam masyarakat dan teknologi tersebut akhirnya mengarahkan manusia untuk bergerak dari satu abad teknologi ke abad teknologi yang lain. Penelitian ini juga menggunakan teori Communicative Constitution of Organizations (CCO), teori yang menggambarkan bentuk komunikasi internal organisasi dalam aplikasi.

whatsapp pada divisi planning dan scheduling. Teori Communicative Constitution of Organizations (CCO) menuurut James R Taylor dalam (Francois & Thomas) tidak hanya bisa menggambarkan bagaimana proses komunikasi, dan tujuannya, tetapi juga menampilkan bagaimana jaringan juga ikut berpengaruh dalam proses komunikasi. Hal yang berperan dalam CCO adalah jaringan (network). Jaringan merupakan susunan sosial yang diciptakan oleh komunikasi antar individu dan kelompok. Saat manusia saling berkomunikasi, terciptalah mata rantai yang merupakan jalur komunikasi dalam sebuah organisasi. Beberapa diantaranya ditentukan oleh aturan-aturan organisasi (seperti susunan birokrasi yang dinyatakan oleh Weber) dan jaringan formal (formal networks) yang banyak berkutat pada bagian susunan organisasi. Jaringan yang justru banyak berkembang bukan jaringan formal melainkan saluran-saluran informal yang sebenarnya dibentuk oleh para anggota organisasi tersebut yang tergabung dalam jaringan formal. Gagasan struktural dasar dari teori jaringan adalah keterkaitan (conectedness), dimana terbentuknya pola komunikasi yang cukup stabil antarindividu. Setiap orang memiliki susunan hubungan yang khusus dengan orang lain dalam organisasi. Hal ini disebut dengan jaringan pribadi (personal networks) dimana hubungan komunikasi yang dimiliki terjalin secara khusus dengan orang lain dalam organisasi, dan jaringan tersebut berbeda anggota dalam organisasi. Dari personal networks, manusia terhubung dengan group networks kemudian terhubung lagi ke jaringan yang lebih besar yaitu organizational networks. Satuan dasar dari organisasi adalah mata rantai (link) antara dua orang. Mata rantai dapat didefinisikan sebagai sebuah peranan jaringan (network role) tertentu, yang menghubungkan kelompok-kelompok dengan cara-cara tertentu. Ketika anggota organisasisaling berkomunikasi, mereka memenuhi beragam peranan dalam jaringan.

METODE PENELITIAN

Dalam penelitian ini paradigma yang digunakan adalah paradigma kontruktivisme. Konstruktivisme menurut Guba dan Linconn adalah realitas sosial yang diamati oleh seseorang tidak dapat digenealisasikan pada semua orang, perilaku manusia secara fundamental berbeda dengan perilaku alam, karena manusia berindak sebagai agen yang mengkonstruksi dalam realitas sosial mereka, baik itu melalui pemberian makna ataupun pemahaman prilaku. pengetahuan merupakan hasil kontruksi manusia yang merupakan permasalahan yang selalu berubah.

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan fenomenologi, penelitian dengan berlandaskan fenomenologi melihat objek penelitian dalam satu konteks naturalnya (Idrus, 2009). Muhajir dalam buku Muhammad Idrus (2009), mengungkapkan bahwa pendekatan fenomenologi melihat suatu peristiwa tidak seara parsial, lepas dari konteks sosialnya karena suatu fenomena yang sama dalam situasi yang berbeda akan pula emiliki makna yang berbeda pula. Dalam pendekatan fenomenologi peneliti akan melihat gejala yang terjadi di masyarakat dan memaparkan seperti apa adanya tanpa diikuti persepsi peneliti Penelitian ini menggunakann pendekatan kualitatif sedangkan jenis penelitian memakai deskriptif guna membuat deskripsi secara sistematis, faktual dan akurat tentang fakta-fakta dan sifat-sifatpopulasi atau objek tertentu. Penulis melakukan wawancara secara online karena situasi masih dimasa pandemic dan diberlakukan  PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) 

HASIL PENELITIAN

 Aplikasi WhatsApp pada komunikasi internal, lebih banyak digunakan untuk komunikasi formal perusahaan. Alasan penggunaan aplikasi ini karena mudah dioperasikan, mudah diunduh, sudah banyak orang yang menggunakan dan familiar. Pesan informatif adalah pesan-pesan mengenai tugas pekerjaan, obrolan harian, mengenai konten acara, mengenai jadwal tayang dan juga mengenai masalah dalam pekerjaan. Selain pesan informatif, terdapat pesan persuasif. Pesan persuasif yang terdapat yaitu kepada setiap pegawai untuk sealu on time dalam menaikan tayangan, mengatur schedule dan jika ada perubahan diharapkan menschedule ulang dengan cepat dan tepat. Selain itu pula diharapkan agar pegawai sudah lebih tahu apa yang harus dilakukan saaat sudah dikantor, tidak banyak bertanya karena didalam komunikasi WhatsApp tersebut sudah jelas. Namun oleh karena itu kadang jika ada pegawai yang belum paham akan disampaikan via WhatsApp, pegawai sering takut untuk bertanya secara langsung, mereka memilih bungkam, dan hal ini malah bisa menimbulkan masalah baru. Kelebihan informasi yang disampaikan dalam group WhatsApp , semua informasi tersampaikan ke semua anggota. Belakangan WhatsApp juga menambah fasilitas lainnya, bisa mengirimkan file dokumen dalam ukuran besar selain foto yang tentunya menjadi kelebihan tersendiri.

Arah aliran informasi yang terjadi pada pengurus DPP Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia  adalah komunikasi ke atas, komunikasi ke bawah dan komunikasi horizontal. Diamana dalam group WhatsApp ketua umum melakukan komunikasi dengan sekretaris jenderal dan krtua bidang dan juga komunikasi dengan karyawan yang ada di secretariat. Komunikasi terkait dengan informasi kegiatan meeting online dan offline, menghadiri undangan dan menyebaran informasi penting kepada pengurus daerahan baik di Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Cabang di seleuruh Indonesia.

Berdasarkan hasil penelitian, pola komunikasi yang terjadi di dewan pengurus Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia adalah pola komunikasi bintang. Pola komunikasi bintang adalah semua anggota adalah sama dan semuanya juga memiliki kekuatan yang sama untuk memengaruhi anggota pengurus. Di dalam pola komunikasi bintang, setiap anggota  bisa berkomunikasi dengan setiap anggota lainnya. Pola ini memungkinkan adanya partisipasi anggota secara optimum dan komunikasi dapat lebih efektif.

SIMPULAN

Dari hasil kajian  yang telah dilakukan, terdapat  kesimpulan sebagai berikut:

      1. WhatsAppp adalah media yang paling banyak digunakan oleh pengurus Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia membutuhkan layanan informas
      2. Perubahan sistem dalam komunikasi internal organisasi berbasis teknologi, mengikuti perkembangan teknologi. Gadget menjadi perangkat yang tidak terpisahkan dari komunikasi internal seperti ini.
      3. WhatApp digunakan pengurus Perkumpulan Penyandang Disabilitas untuk berkoordinasi antar pengurus baik di Pusat maupun di daerah karena relative murah dan lebih efektif.
      4. Pola komunikasi yang digunakan pengus Perkumpulan Penyandang Disabilitas adalah pola komunikasi bintang.

 

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Djamarah, Bahri Syaiful. 2004. Pola Komunikasi Orang Tua & Anak Dalam keluarga. Jakarta: PT. Reneka Cipta.

Effendy, Onong Uchjana. 2005. Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Effendi, Onong Uchjana , Dinamika Komunikasi, 2004, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung

Fajar, Marhaeni. 2009. Ilmu Komunikasi: Teori & Praktek. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Idrus, Muhammad. (2009). Metode Penelitian Ilmu Sosial. Cet. I; Yogyakarta : Erlangga.

Kriyantono, Rahmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi: Disertai Contoh Praktis Riset Media, Public Relations, Advertising, Komunikasi Organisasi, Komunikasi Pemasaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Goldberg Alvin A. dan Carl E. Larson. 1985. Komunikasi Kelompok, Proses-Proses Diskusi dan Penerapannya. Jakarta: Universitas Indonesia.

Artikel dalam Jurnal

Suswanto, Budi. (2016). Analisis Aliran Informasi Komunikasi Internal Dalam Implementasi Mobile Working Pada Perusahaan Media Penyedia Konten Internal Magazine (Studi Kasus Di Pt Tanair Media Seruni). Jurnal Media Komunikasi Vol.6 (2)

Sumber Internet

Astika. (2017). Pemanfaatan WhatsApp sebagai Forum Diskusi dan Penyebaran Materi Pembelajaran pada Mahasiswa.  https//www.offeringkaduapsip.wordpress.com/2021/10/27/pemanfaatan-whatsappsebagai-forum-diskusi-dan-penyebaranmateri-pembelajaran-pada-mahasiswa/

Cooren, Francois, dan Thomas Martie, 2016. Communicative Constitution of Organizations

Chapter I. The Journal of University Of Montreal, Canada. Diakses pada 26 juli 2021,

Dari  http://www.researchget.net/profile/Thomas_martine/publicatio/309394678_communicative-Constitution-of-Organization.pdf?origin+publication_detail

Paradigma   penelitian. Diakses pada 26/07/2021 http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/41324/Chapter%20ll.pdf?squence=3&isallowed=y

Rachmaniar, dan Anisa Renata. (2017). Studi Deskriptif Tentang Lyalitas Peserta Grup Whatsapp. Sosioglobal: Jurnal Pemikiran Dan Penelitian Sosiologi, Vol 2(I). Diakses pada 26 juli 2018, dari http://jurnal.unpad.ac.id/sosioglobal/article/view/15269

Whatsapp. Diakses pada 26 juli 2021, dari https://www.google.co.id/search?q=jurnal+tentang+whatsapp&sa=X&ved=0ahUKE wiy4sCN-77cAhUKfn0KHQwLDHIQ1QIIlAEoBA&biw=1326&bih=567

Leave Comment

PPDI MEMILIKI

0
DPD
0
DPC
0
PPK
0
OPD

Post Terbaru

Back to top