DPP PPDI

Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia

Salut…., Tunanetra ini Lulus Doktor Sangat Memuaskan Salut…., Tunanetra ini Lulus Doktor Sangat Memuaskan
KETERBATASAN fisik sebagai tunanetra tak menghalangi Akhmad Soleh untuk meraih gelar akademis tertinggi. Dengan keteguhan yang dimiliki, Ketua Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) DIY ini... Salut…., Tunanetra ini Lulus Doktor Sangat Memuaskan


KETERBATASAN
 fisik sebagai tunanetra tak menghalangi Akhmad Soleh untuk meraih gelar akademis tertinggi. Dengan keteguhan yang dimiliki, Ketua Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) DIY ini berhasil menyelesaikan disertasi dan memperoleh gelar Doktor Ilmu Agama Islam. Dengan prestasi ini Akhmad Soleh menjadi penyandang disabilitas (tunanetra) pertama di DIY yang meraih gelar Doktor. 


Di hadapan tim penguji yang diketuai Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN Suka) Yogyakarta Prof Dr H Musa Asy’arie, ayah empat anak ini mampu mempertahankan disertasinya yang berjudul ‘Aksesibilitas Penyandang Disabilitas terhadap Perguruan Tinggi (Studi Kasus Empat Perguruan Tinggi Negeri di DIY)’ dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor di Gedung Convention Hall Lantai II, UIN Suka Yogyakarta, Sabtu (19/07/2017). Sebagai Promotor I Prof Suwarsih Madya MA PhD dan Promotor II M Agus Nuryanto MA PhD.

Pria kelahiran Kudus 16 Juli 1965 yang beralamat di Kampung Besalen Baturetno Banguntapan Bantul ini oleh Prof Dr H Musa Asy’arie dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan. Turut hadir mendampingi adalah istrinya Tutik Alawiyah dan keempat anaknya, yakni Nidatul Khasanah, Muhammad Mujadid, Muhammad Sobrun Jamil dan Muhammad Mustaghfirin.

Dalam pemaparan disertasinya Soleh memaparkan, empat perguruan tinggi negeri (PTN) di DIY, yakni UIN Suka, Institut Seni Indonesia (ISI), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) belum mencerminkan model perguruan tinggi yang akomodatif bagi penyandang disabilitas. “Para pimpinan empat PTN tersebut juga memiliki pandangan dan pemahaman berbeda-beda terhadap mahasiswa penyandang disabilitas,” katanya.

Dikatakan, UNY dan ISI dalam merumuskan kebijakan pendidikan terkait pendidikan bagi mahasiswa penyandang disabilitas, baik yang berupa regulasi maupun peraturan akademik belum menunjukkan keberpihakan. Menurutnya visi-misi, tujuan pendidikan, struktur oraganisasi dan program universitas yang dimiliki ISI dan UNY belum mencerminkan aspek penting bagi kebutuhan pendidikan penyandang disabilitas, yaitu aspek akomodasi. “UNY dan ISI belum menunjukkan sensitivitas terhadap pendidikan penyandang disabilitas,” katanya.

Sementara UGM, meski telah melakukan kebijakan pendidikannya dalam bentuk Anggaran Rumah Tangga (ART), namun masih sedikit aspek keberpihakan dan sensitivitasnya terhadap mahasiswa penyandang disabilitas. Menurut Soleh, barangkali hanya UIN Suka yang telah mengarah pada model perguruan tinggi yang akomodatif bagi penyandang disabilitas. Itu dibuktikan antara lain dengan adanya peraturan yang berkaitan dengan penyandang disabilitas, adanya Pusat Studi Layanan Difabel (PSLD). Kemudian, UIN Suka juga punya program ‘Akses Membaca’ dan ‘Advokasi’. “Baru di UIN yang sedikit banyak infrastruktur dan fasilitasnya bisa diakses penyandang disabilitas, meski belum optimal,” terangnya.

Dijelaskan, pinsip-prinsip desain universal tidak hanya diterapkan pada aksesibilitas fisik semata, melainkan juga nonfisik. Aksesibilitas nonfisik yang dibutuhkan oleh penyandang disabilitas di perguruan tinggi di antaranya kebijakan dan peraturan pendidikan tinggi, pelayanan institusi, modifikasi desain pembelajaran, kurikulum yang akomodatif, evaluasi, sarana dan prasarana serta program disabilitas. “Semoga penelitian ini bisa dijadikan rujukan dalam pengambilan kebijakan,” harapnya.

Banyak suka-duka ia alami selama menyelesaikan penelitiannya, mulai sumber referensi yang masih sangat minim, keterbatasan akses saat penelitian hingga harus istirahat lama karena kecelakaan. “Kurang lebih tujuh tahun saya selesaikan S3 saya,” katanya.

Sementara itu, Tutik Alawiyah (istrinya), mengaku bangga memiliki suami Akhmad Soleh. Selama suaminya studi, ia setia mengantar ke manapun suaminya pergi, menggunakan sepeda motor. “Saya senang mengantar suami saya, karena bisa mendapat banyak pengalaman dan ketemu banyak pejabat,” katanya. 

Namun ada pengalaman pahit yang harus ia terima, saat ia dan suaminya dianggap pengemis oleh salah satu staf kampus. Padahal suaminya hendak bertemu dengan pimpinan kampus soal urusan penelitian. “Pernah saya diberi uang Rp 5.000 karena dikira pengemis,” katanya. Kesulitan lain yang ia rasakan, yakni saat harus mencari data mahasiswa penyandang disabilitas dengan menyusuri tiap-tiap jurusan di 4 PTN tersebut. 

Menurut Tutik, keempat PTN itu semuanya tidak mempunyai data valid mengenai mahasiswanya yang disabilitas. “Saya terpaksa harus menelusuri di tiap-tiap jurusan,” katanya. (M-2)

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Your email address will not be published. Required fields are marked *