DPP PPDI

Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia

“Tootells”, Mengenalkan Gigi bagi Tunanetra “Tootells”, Mengenalkan Gigi bagi Tunanetra
YOGYAKARTA, (PRLM).- Para penyandang disabilitas tunanetra bisa mengenal bentuk dan jenis gigi dengan menjamah replika gigi pintar yang dijuluki “tootells”. Perangkat replikasi gigi ukuran... “Tootells”, Mengenalkan Gigi bagi Tunanetra

YOGYAKARTA, (PRLM).- Para penyandang disabilitas tunanetra bisa mengenal bentuk dan jenis gigi dengan menjamah replika gigi pintar yang dijuluki “tootells”. Perangkat replikasi gigi ukuran raksasa tersebut tidak hanya menggambarkan bentuk gigi, juga bisa mengenalkan nama jenis gigi dengan suara yang terdengar secara otomatis saat replika gigi disentuh jari.

Tootells tersebut merupakan alat peraga gigi dan mulut yang diciptakan oleh Aprialiani Astuti bersama empat rekannya, Isti Noor Masita, Navikatul Ula, Hamzah Assaduddin, Brisma Meihar Arsandi, mahasiswa dari program studi pendidikan Dokter Gigi, Fakultas Kedokteran Gigi UGM.

Replika gigi berbahan dasar serbuk kayu. Agar replika gigi dari serbuk memiliki multi fungsi, gigi direkayasa bisa bicara saat disentuh oleh siapapun, terutama penyandang tunanetra. Maka dilekatkan perangkat elektronik yang dikenal sistem elektronis berbasis mikrokontroler. Dengan demikian penyandang tunanetra bisa membayangkan bentuk gigi sekaligus mengenal nama jenis gigi yang dirabanya.

Koordinator proyek, April Astuti menyatakan tootells sebenarnya tidak dikhususkan kepada penyandang tunanetra, perangkat ini bisa digunakan untuk mengenalkan jenis gigi dan namanya kepada anak-anak maupun orang dewasa normal.Targetnya bukan sebatas mengenalkan jenis gigi, juga pembelajaran kesehatan gigi.

Dalam penjelasannya, Jumat (16/5/2014), dia menyatakan ukuran replikasi gigi bersuara dalam ukuran besar juga menjadi pertimbangan dalam pembuatan untuk memaksimalkan manfaat produk tersebut. Pengalamannya selama kuliah saat mendapat penjelasan dari dosen maupun menjelaskan anatonomi gigi relatif sulit mengenali detail karena ukuran replika anatomi gigi hampir semuanya kecil.

Adapun sistem kerja replika anatomi gigi yang diciptakan April, setiap jenis gigi yang dikemas dengan serbuk kayu dilengkapi sensor dan mikrokontroler plus speaker di dalam replika gigi. Pengguna dari kalangan tunanetra cukup menyentuh bagian manapun dari replikasi gigi, maka sensor merespon dan mengeluarkan bunyi nama gigi yang tengah disentuh. Adapun durasi suara jenis gigi berkisar 60 detik per satu sentuhan.

Suara yang terdengar bagian gigi dan penyakit gigi tertentu seperti email, dentin, pulpa, gigi berlubang atau berongga. “Ini kelebihan anatomi replikasi gigi yang saya ciptakan,” kata April didampingi anggota tim dari program studi teknik mesin Fakultas Teknik UGM, Hamzah Assaludin.

Penciptakan replika gigi bersuara tersebut memerlukan beberapa kali percobaan, dan mengalami sedikitnya tiga kali gagal total dalam ujicoba. Melalui serangkaian percobaan yang diulang-ulang, akhirnya replikasi gigi bisa berbicara tersebut bisa diciptakan dan satu replikasi gugu menghabiskan biaya Rp 3 juta.

CONTOH replika gigi graham berbahan dasar serbuk kayu dilengkapi sensor dan mikrokontroler plus speaker di dalam replika gigi, maka tercipta gigi bisa berbicara yang dinamakan "Tootells" karya Aprialiani Astuti, dkk dari pendidikan Dokter Gigi UGM.*Karena modal besar, maka pembuatan replika gigi bisa berbicara dalam jumlah terbatas, bahkan, sebagai ujicoba baru diciptakan satu model gigi jenis graham. Meskipun satu biji replika, menurut dia, respon pengguna yang dijadikan ujicoba dari anak-anak sekolah luar biasa penyandang tunanetra, sangat antusias dan mereka menuntut bisa mengenal lebih banyak gigi lagi. (A-84/A-108)***

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Your email address will not be published. Required fields are marked *