DPP PPDI

Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia

Trans Padang, Belum Bersahabat untuk Kaum Difabel Trans Padang, Belum Bersahabat untuk Kaum Difabel
KURANG dari sepekan lagi, Trans Padang resmi dua tahun jadi sarana transportasi publik di Padang sejak diresmikan penggunaannya 13 Februari 2014 lalu oleh Walikota... Trans Padang, Belum Bersahabat untuk Kaum Difabel

KURANG dari sepekan lagi, Trans Padang resmi dua tahun jadi sarana transportasi publik di Padang sejak diresmikan penggunaannya 13 Februari 2014 lalu oleh Walikota Fauzi Bahar. Langkah ini diharapkan dapat menata sarana transportasi umum yang dapat melayani semua kalangan, termasuk kaum difabel yang tentunya berkebutuhan khusus dibanding pengguna lainnya.

Beberapa upaya sebenarnya sudah mu­lai terlihat, mu­lai dari bentuk halte yang didisain dengan bidang da­tar hingga ke ruang tunggu hingga prioritas peruntukan tempat duduk yang ter­tempel di seluruh dinding bus yang melayani jalur utama pusat kota hingga batas kota dengan Padang Pariaman.

Sayangnya, upaya ini masih dirasa belum oleh optimal sehingga masih memantik keluhan pe­nyan­dang disabilitas. Mereka mengeluhkan kondisi sarana dan prasarana umum yang ada di Padang, salah satunya sarana halte dan trotoar untuk mereka gunakan selayak­nya orang normal.

Dari pantauan Haluan di lapangan, Jumat (5/2). Selama beberapa jam berdiri di salah satu halte yang ada di kawasan Lubuk Buaya, tidak banyak bus trans yang berhenti tepat diping­gir halte. Rata-rata bus berhenti dengan jarak lebih kurang dua jengkal dari pinggir halte, pada saat penumpang dengan kondisi keterbatasan fisik (pakai kursi roda) ingin menaiki bus tampak begitu kesulitan karena jaraknya yang cukup jauh tersebut.

Begitu juga saat pantauan yang dilakukan pada Kamis (4/2) kemarin di halte kawasan Khatib Sulaiman tepatnya dekat Masjid Raya Padang, tampak salah seorang penumpang disabi­litas dengan kondisi kaki yang cacat menggunakan kruk (tong­kat atau alat bantu untuk berja­lan) tidak bisa mandiri untuk masuk ke dalam bus karena pemberhentian bus terlalu berja­rak dengan halte. Kondisi seperti ini tentunya harus mendapatkan perhatian khusus dari penjaga pintu bus trans (kenek), untuk membantu memapah masuk ke dalam bus.

Ketua Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kota Padang Icun Sulhadi me­ngatakan, ada beberapa hal yang salama ini masih belum bisa disesuaikan dengan kondisi te­man-teman penyandang disabi­litas. Mulai dari kondisi halte yang tidak memenuhi standar untuk disabilitas, misalnya kon­disi halte yang terlalu terjal dan tinggi yang sulit untuk dinaiki. Tidak hanya itu, jarak bus saat berhenti di halte juga cukup jauh sehingga para penyandang disa­bilitas kesulitan untuk melompat ke dalam bus.

“Jarak antara bus dan bibir halte cukup jauh, jadi bagi teman-teman yang memakai kaki bantu tentunya tidak bisa melompat. Nah ini butuh perhatian dari penjaga pintu bus trans, belum lagi saat di dalam kalau sebe­lumnya ada suara jika akan berhenti di setiap halte, namun sekarang tidak ada lagi ini kan sangat dibutuhkan oleh tuna­wicara,” ungkapnya.

Menurutnya, letak halte juga belum dengan pertimbangan yang matang misalnya saja kon­disi sekitar halte yang jalannya rusak, dan halte yang terlalu tinggi. Serta, letak halte yang berdekatan dengan pohon atau vas bunga, contohnya halte dekat BTN yang langsung disambut oleh akar pohon yang tentunya akan menyulitkan bagi penyan­dang disabilitas.

“Kita tentunya berharap, ada sarana tambahan untuk menjem­batani antara bus ke halte agar para penyandang disabilitas dapat masuk dan keluar dengan man­diri dari bus. Selain itu, kita juga berharap agar pemerintah agar membenahi trotoar yang ada, misalnya di trotoar yang ada banyak diletakkan vas bunga atau dijakikan oleh warga untuk ber­jua­lan salah satunya di kawasan Permindo Pasar Raya,” jelasnya.

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Dinas Perhubungan dan Kominfo Kota Padang Yudi Indra mengatakan, pihaknya su­dah menganggarkan untuk me­la­kukan perubahan pada se­jumlah halte yang belum perma­nen. Namun saat ini, ia mengata­kan pihaknya masih melakukan pen­datan untuk mengetahui ka­wasan mana saja yang harus diprio­ritaskan perbaikan halte trans ini.

“Kita memang mengaggarkan tahun ini, untuk perbaikan halte yang masih belum permanen dan portable. Agar para penyandang disabilitas dapat menggunakan fasilitas umum sebagaimana warga normal lainnya,” ujarnya.

Namun demikian, ia me­ngaku belum mengetahui secara pasti berapa jumlah halte yang akan diperbaiki ini karena masih dalam pendataan. Yang jelas, katanya yang akan dilakukan perbaikan tersebut di kawasan atau titik-titik vital bagi masya­rakat. (*)

 

Laporan: RINA AKMAL

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Your email address will not be published. Required fields are marked *