62878-5659-5681 [email protected]
Logo PPDI

PPDI

Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia

Refleksi dari Reruntuhan Venezuela: Mungkinkah Kita "Tertinggal" dalam Kesiapsiagaan?

Dunia baru saja dihantam oleh duka yang menyesakkan dari Venezuela. Pada 24 Juni 2026, dua gempa besar dengan magnitudo M_w 7,2 dan M_w 7,5 meluluhlantakkan wilayah utara-tengah negara tersebut. Hingga hari ini, data menunjukkan angka yang pilu: setidaknya 1.719 jiwa telah dipastikan tewas, lebih dari 5.000 orang terluka, dan puluhan ribu lainnya masih dinyatakan hilang di bawah puing-puing bangunan.

Angka-angka ini bukan sekadar statistik; mereka adalah napas yang terputus, keluarga yang tercerai-berai, dan mimpi yang terkubur. Namun, di balik skala kehancuran yang masif, ada satu pertanyaan besar yang sering kali luput dari perbincangan publik namun sangat menentukan dalam fase tanggap darurat: Berapa banyak dari mereka adalah penyandang disabilitas, lansia, atau kelompok rentan yang "tertinggal" karena sistem evakuasi kita tidak dirancang untuk mereka?

Cermin bagi Indonesia: Bayang-Bayang "Megathrust"

Bagi Indonesia, tragedi Venezuela bukanlah berita asing yang jauh. Secara geologis, kita hidup di atas ancaman serupa—bahkan mungkin lebih kompleks. Para ahli kebumian dan BMKG telah berulang kali mengingatkan mengenai potensi gempa megathrust yang siap melepaskan energinya kapan saja di zona-zona aktif Nusantara.

Pertanyaannya, apakah kita hanya akan menunggu hingga "alarm" itu berbunyi, lalu tersentak saat melihat infrastruktur kita runtuh?

Jika kita membedah protokol penanggulangan bencana kita hari ini, seberapa jauh inklusivitas telah menjadi napas utama? Sering kali, prosedur standar operasi (SOP) kita masih bersifat one-size-fits-all—asumsi bahwa setiap orang mampu berlari kencang, mampu mendengar sirine, mampu menavigasi tangga darurat, atau mampu memahami instruksi suara. Padahal, bencana tidak pernah memilih siapa yang akan ia sasar.

Menggugat Mitigasi: Sudahkah Kita Inklusif?

Kepada pemerintah, BNPB, BPBD di seluruh daerah, dan seluruh elemen relawan kemanusiaan, mari kita melakukan refleksi jujur di depan cermin:

  1. Apakah Peringatan Dini Kita "Mendengar"? Jika sirine berbunyi, apakah saudara kita yang Tuli/Rungu mendapatkan notifikasi yang sama melalui sistem visual atau getaran?
  2. Apakah Jalur Evakuasi Kita "Ramah"? Apakah kita telah memastikan bahwa jalur evakuasi di gedung-gedung publik dan pemukiman dapat diakses oleh kursi roda atau penyintas dengan mobilitas terbatas?
  3. Apakah Data Kita "Hidup"? Seberapa akurat database penyandang disabilitas di setiap desa/kelurahan yang kita miliki untuk kepentingan evakuasi cepat? Tanpa data geotagging yang presisi mengenai posisi mereka, tim SAR sering kali berpacu melawan waktu tanpa peta yang jelas siapa yang harus didahulukan.

Membangun Pertahanan Terbaik: Inklusivitas

Bencana Venezuela mengajarkan kita bahwa sistem yang tidak inklusif adalah sistem yang gagal melindungi warganya yang paling rentan. Kesiapsiagaan inklusif bukan lagi sekadar pelengkap atau "tambahan" dalam SOP kebencanaan, melainkan sebuah kewajiban fundamental.

Kita membutuhkan:

  1. Pelibatan Aktif: Mengintegrasikan organisasi penyandang disabilitas dalam setiap penyusunan rencana kontijensi daerah. Mereka adalah ahli atas kebutuhan mereka sendiri.
  2. Infrastruktur Responsif: Menjamin setiap titik kumpul memiliki standar aksesibilitas fisik dan sanitasi yang layak bagi semua orang.
  3. Literasi Bencana Inklusif: Mengedukasi masyarakat agar menjadi "tetangga yang siaga," yang memahami bagaimana cara mengevakuasi tetangganya yang memiliki kebutuhan aksesibilitas khusus saat detik-detik kritis terjadi.

Saatnya Bertindak Sebelum Bencana Mengetuk

Tragedi Venezuela adalah alarm keras bagi kita semua. Jangan biarkan kita menjadi saksi bisu dari kerentanan sistem sendiri di masa depan. Ketangguhan sebuah bangsa bukan hanya diukur dari seberapa megah gedungnya, tetapi dari seberapa baik ia memastikan tidak ada satu pun warga negaranya yang tertinggal dalam upaya penyelamatan.

Mari kita ubah narasi kesiapsiagaan kita hari ini—sebelum lempeng tektonik benar-benar bergerak dan menuntut pertanggungjawaban atas apa yang belum kita persiapkan.

Saatnya Kesiapsiagaan Inklusif menjadi standar, bukan opsi.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tinggalkan Komentar

Tautan berhasil disalin ke papan klip!